CEO Vizsla: Harga tembaga akan kalahkan emas dan perak
Kamis, 09 April 2026

JAKARTA – Setelah harga emas sempat mencetak rekor tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya di level US$5.600 per ons pada awal tahun, fokus para investor kini disarankan untuk mulai bergeser.
Chairman sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Vizsla Copper Corp, Craig Parry, memproyeksikan bahwa tembaga akan muncul sebagai logam paling menonjol dalam siklus komoditas saat ini.
Parry meyakini bahwa harga tembaga akan outperform (mengalahkan) performa emas dan perak pada tahun ini, dengan potensi lonjakan harga yang fantastis hingga mencapai US$20 hingga US$30 per pon pada akhir dekade ini.
Optimisme ini didorong oleh defisit pasokan struktural di industri pertambangan yang bertabrakan dengan tingginya permintaan jangka panjang untuk elektrifikasi global, transisi energi hijau, dan investasi infrastruktur.
Seperti dikutip Kitco.com (08/04/2026), Parry menjelaskan kepada Kitco News bahwa industri pertambangan saat ini menghadapi kekurangan pasokan baru yang parah. Ia mengestimasi bahwa dibutuhkan investasi sekitar US$200 miliar untuk memenuhi permintaan tembaga di masa depan, namun tidak ada cukup proyek yang layak untuk menyerap modal tersebut.
Sementara beberapa bank memproyeksikan harga tembaga hanya akan mencapai kisaran US$6 hingga US$8 per pon, Parry berkaca pada siklus super komoditas (commodities supercycle) sebelumnya di mana harga melonjak sekitar enam kali lipat dari US$0,70 menjadi US$4,60 per pon, dan meyakini pergerakan dekade ini bisa jauh lebih ekstrem jika pasokan gagal merespons.
Mengenai emas, meski gangguan geopolitik di Timur Tengah kawasan yang menyumbang sekitar 20 persen dari konsumsi emas global sempat menekan permintaan fisik, ia memprediksi harganya akan kembali melambung tajam setelah arus perdagangan normal.
Sementara itu, perak dinilai berada di antara emas dan tembaga, ditopang oleh tingginya permintaan dari sektor tenaga surya (solar sector).
Menyikapi volatilitas pasar belakangan ini, Parry mendeskripsikan aksi jual (selloff) yang terjadi pada ekuitas pertambangan baru-baru ini sebagai sebuah "peluang luar biasa" (extraordinary opportunity).
Ia memproyeksikan akan ada penilaian ulang (re-rating) yang tajam di seluruh sektor pertambangan selama 12 hingga 18 bulan ke depan seiring penyesuaian pendapatan perusahaan dengan harga logam yang lebih tinggi.
Untuk memanfaatkan celah pasokan yang kian melebar tersebut, Vizsla Copper kini tengah mengeksekusi program eksplorasi multi-aset yang agresif pada tahun 2026 untuk memperluas basis sumber daya tembaganya di proyek-proyek di Alaska dan British Columbia.
Fokus utama mereka saat ini adalah proyek unggulan Palmer di Alaska, di mana Vizsla merencanakan pengeboran hingga 10.000 meter untuk memperluas mineralisasi kadar tinggi dan menguji target baru di lahan tersebut. (SF)