Plant 4D di Sumsel siap beroperasi, ARNA sasar laba tumbuh 17% di 2026
Kamis, 09 April 2026

JAKARTA – Emiten produsen keramik PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) mengumumkan bahwa Plant 4D di Ogan Ilir, Sumatra Selatan, telah rampung dan siap beroperasi pada tengah April 2026.
Berdasarkan pemaparan manajemen, Plant 4D akan menambah kapasitas produksi Perseroan hingga 5,5 juta meter persegi (m2) keramik per tahun, dengan ukuran 60x60, 80x80, dan 60x120.
Dengan demikian, total kapasitas terpasang ARNA akan menyentuh 75,8 juta m2 per tahun pada tahun 2026.
Selain itu, mempertahankan tingkat utilisasi kapasitas terpasang di level 97%, manajemen juga menargetkan kenaikan produksi hingga 10% secara tahunan di 2026.
“Tahun lalu, produksi kita 66,9 (juta m2), tahun ini, target kita 73,8 (juta m2). Jadi, akan bertumbuh 10%,” ujar Rudy Sujanto, Chief Financial Officer ARNA, pada IDNFinancials, Rabu (8/4).
Ia juga menyebutkan bahwa beberapa line produksi yang sempat berhenti tahun lalu kini akan mulai beroperasi di tahun 2026, misalnya line di Plant 2 dan Plant 5.
Line tersebut akan memproduksi keramik yang lebih diminati pasar, misalnya keramik badan merah (red body) berukuran 60x60, serta keramik lantai, alih-alih keramik dinding.
Rudy juga mengharapkan volume penjualan turut naik hingga 7% menjadi 72,8 juta m2, seiring produksi yang meningkat.
Didukung harga jual rata-rata (ASP) keramik Perseroan yang diproyeksikan naik 9% di 2026, maka ARNA optimistis bahwa kinerja pendapatan atau penjualan bersih bisa melesat hingga 17%.
“Kami optimis dengan 9% pertumbuhan ASP karena seperti yang kita tahu tadi, 4D akan produksi keramik porselen, yang harganya bagus,” ujar Rudy.
Namun, meski target pendapatan meroket, Rudy memilih memasang target realistis untuk margin laba bersih, karena kendala pasokan gas berpotensi membuat biaya produksi membengkak.
“Kalau tahun lalu, secara margin 13,7% untuk bottom line, tahun ini, sekitar 14,1–14,2% itu sudah bagus, karena harga gas tahun ini pasti akan jauh lebih tinggi daripada tahun lalu,” imbuh Rudy.
Namun, manajemen masih optimistis bahwa laba bersih tahun 2026 dapat mengikuti kinerja top-line, dengan target kenaikan hingga 17%.
Seperti yang diberitakan IDNFinancials.com sebelumnya, ARNA membukukan penurunan laba bersih hingga 6% secara tahunan pada tahun 2025 menjadi Rp400,47 miliar akibat tekanan biaya produksi, terutama tarif dan gangguan pasokan gas.
Meski laba bersih menurun, ARNA tetap mengumumkan rencana pembagian dividen sebesar Rp45 per lembar atau Rp330,4 miliar untuk tahun buku 2025, dengan indikasi yield mencapai 8,5%. (ZH)