Hindari impor China, AS siapkan US$100 miliar untuk mineral kritis
Kamis, 27 November 2025

WASHINGTON - Bank Ekspor-Impor AS (Ex-Im Bank), lembaga federal independen yang bertugas memfasilitasi perdagangan Amerika, akan menginvestasikan US$100 miliar untuk mendukung rencana Presiden Donald Trump dalam mengamankan rantai pasok AS dan sekutu untuk mineral kritis, energi nuklir, dan gas alam cair (LNG).Ketua Ex-Im, John Jovanovic, yang diangkat pada September, mengatakan kepada Financial Times bahwa lembaga ini akan membiayai proyek-proyek tersebut untuk mengurangi ketergantungan Barat pada China dan Rusia.Tranche pertama proyek akan mencakup proyek di Mesir, Pakistan, dan Eropa.Menurut Jovanovic, Barat selama ini terlalu bergantung pada pasokan bahan kritis yang “tidak lagi adil.”“Kita tidak bisa melakukan hal lain yang sedang dicoba tanpa rantai pasok bahan mentah kritis ini aman, stabil, dan berfungsi,” ujar Jovanovic.Tranche pertama termasuk jaminan asuransi kredit US$4 miliar untuk LNG dari Mesir oleh Hartree Partners, serta pinjaman US$1,25 miliar untuk tambang Reko Diq di Pakistan yang dikembangkan oleh Barrick Mining.Ex-Im saat ini memiliki US$100 miliar dari US$135 miliar yang disetujui Kongres. Dalam 12 bulan hingga akhir September, bank telah menyetujui transaksi baru senilai US$8,7 miliar, belum termasuk pinjaman US$4,7 miliar yang disetujui kembali pada Maret untuk proyek LNG di Mozambik yang dipimpin TotalEnergies.“Ex-Im kembali dengan skala besar dan siap berbisnis,” kata Jovanovic.
Fokus bank adalah membawa molekul energi AS ke seluruh penjuru dunia. Seperti dikutip oilprice.com, permintaan dukungan LNG AS datang dari Eropa, Afrika, dan Asia, dan sejumlah kesepakatan bernilai miliaran dolar akan diumumkan dalam beberapa hari mendatang.Berbeda dengan beberapa bank pembangunan lain yang memiliki mandat terkait perubahan iklim sehingga tidak berinvestasi di proyek bahan bakar fosil, Ex-Im tidak bisa mengecualikan proyek tersebut.Jovanovic menegaskan, LNG AS akan menjadi faktor stabilisasi untuk keamanan energi di wilayah yang paling membutuhkannya.Fokus Ex-Im pada ekspor LNG dan keamanan energi menandai pergeseran dari kebijakan sebelumnya di era Presiden Biden, di mana bank banyak mendukung proyek energi terbarukan.Tahun lalu, Ex-Im mendukung proyek energi hijau senilai US$1,6 miliar, naik 74% dibanding 2023.
Selain LNG, Ex-Im juga aktif membahas beberapa proyek nuklir di Eropa Tenggara, termasuk investasi perusahaan AS seperti Westinghouse, serta mendukung proyek penambangan uranium untuk bahan bakar nuklir, yang selama ini banyak dikuasai Rusia dan China.Pemerintahan Trump menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan AS pada China untuk logam, termasuk tembaga dan rare earth.Menurut Jovanovic, Ex-Im akan membiayai proyek mineral kritis dalam skala besar, dengan beberapa kesepakatan yang sudah sangat dekat penyelesaian. "Dan beberapa proyek jauh lebih besar dibanding pinjaman Reko Diq senilai $1,25 miliar."Oktober lalu, Gedung Putih menandatangani kesepakatan pasokan mineral dengan Australia dan tengah mengupayakan kesepakatan serupa yang siap didukung Ex-Im. (DK)