Jalur sunyi Islamabad: Kisah Pakistan gaet Iran-AS gencatan senjata
Kamis, 09 April 2026

JAKARTA - Pakistan memainkan peran kunci dalam mendorong tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran setelah hampir enam pekan konflik. Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan jeda dua pekan, yang kemudian dikonfirmasi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Dikutip Aljazeera, di balik kesepakatan tersebut, kedua pihak mengakui peran Islamabad sebagai mediator utama. Trump menyebut keputusan itu diambil “berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Field Marshal Asim Munir, dari Pakistan”, sementara Araghchi menyampaikan apresiasi atas “upaya tak kenal lelah” Pakistan dalam menghentikan konflik.
Perdana Menteri Shehbaz, Sharif, menyatakan gencatan senjata berlaku segera dan mengundang kedua pihak melanjutkan negosiasi di Islamabad. Pemerintah Pakistan juga menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mendorong proses diplomasi lanjutan.
Konflik yang dimulai pada akhir Februari telah menewaskan lebih dari 2.000 orang di Iran, mengganggu sekitar 20% pasokan minyak global, dan meningkatkan risiko eskalasi regional. Di tengah situasi tersebut, Pakistan bergerak cepat melakukan pendekatan diplomatik, termasuk menawarkan diri sebagai tuan rumah perundingan.
Sejak awal konflik, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar aktif menjalin komunikasi dengan Teheran dan sekutu regional. Islamabad juga menjaga keseimbangan hubungan dengan Arab Saudi dan Iran, di tengah tekanan domestik dan risiko keamanan dalam negeri.
Upaya diplomasi semakin intensif seiring eskalasi konflik yang memicu lonjakan harga energi. Pakistan terlibat dalam mekanisme koordinasi bersama Arab Saudi, Turki, dan Mesir, sekaligus menjadi penghubung pertukaran proposal antara Washington dan Teheran.
Sejumlah proposal, termasuk rencana 15 poin dari Amerika Serikat dan 10 poin dari Iran, disalurkan melalui Islamabad. Meski kedua pihak masih memiliki perbedaan signifikan, jalur komunikasi tetap terbuka.
Peran Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dinilai krusial. Ia menjalin komunikasi langsung dengan pejabat AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan utusan khusus Steve Witkoff, dalam fase akhir negosiasi.
Menjelang tenggat yang ditetapkan Trump, Pakistan mengajukan proposal gencatan senjata dua tahap. Upaya tersebut berlanjut hingga menit-menit terakhir sebelum akhirnya tercapai kesepakatan.
Meski demikian, sejumlah isu utama masih belum terselesaikan, termasuk status Lebanon, program nuklir Iran, dan pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. Serangan di Lebanon yang masih berlangsung menunjukkan rapuhnya kesepakatan tersebut.
Analis menilai peran Pakistan menandai peningkatan posisi diplomatik negara tersebut di tingkat global. Untuk pertama kalinya, Islamabad memfasilitasi mediasi antara dua pihak yang berkonflik langsung tanpa kontak bilateral.
Namun, keberhasilan jangka panjang masih bergantung pada hasil negosiasi lanjutan. Seorang analis menilai, “A messenger transmits, but Pakistan shaped the sequencing, timing and framing of proposals.”
Gencatan senjata ini menurunkan harga minyak sekitar 16% dan membuka kembali Selat Hormuz setelah lima pekan penutupan. Meski begitu, prospek perdamaian permanen masih belum pasti dan bergantung pada komitmen kedua pihak dalam perundingan berikutnya.(DH)