OCBC NISP tetapkan dividen Rp45 per saham, anjlok 57,6%

Kamis, 09 April 2026

image

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) mengesahkan alokasi dividen tahun buku 2025 sebesar Rp45 per lembar saham, atau Rp1,03 triliun.

Angka tersebut hanya setara 20,42% laba bersih NISP per Desember 2025 sebesar Rp5,06 triliun.

Sebagai catatan, laba bersih NISP memang hanya tumbuh 3,9% secara tahunan pada 2025 lalu. Namun, berdasarkan data IDNFinancials.com, alokasi dividen menyusut drastis hingga sekitar 57,6%.

Pasalnya, pada tahun buku 2024, bank swasta ini membagikan sekitar 50% laba bersihnya sebagai dividen, yaitu sebesar Rp106 per lembar atau Rp2,43 triliun – sekitar 2,35 kali lipat dividen tahun buku 2025.

Perseroan belum mengumumkan jadwal terkait pembagian dividen tahun buku 2025 tersebut.

Seiring dengan penetapan alokasi dividen yang lebih rendah tersebut, harga saham OCBC NISP terpantau anjlok 7,31% ke level Rp1.400 hingga pukul 14.22 WIB hari ini, Kamis (9/2).

Bahkan dengan harga yang ambles tersebut, indikasi imbal hasil dividen (dividend yield) tahun buku 2025 hanya mencapai 3,2% -- jauh dari rata-rata yield dividend dalam tiga tahun buku terakhir di kisaran 6,4%.

Sebagai catatan, harga saham NISP terlihat meroket dalam setahun terahir hingga 14,75%, bahkan sempat menyentuh harga tertinggi sepanjang masa (all-time high) di Rp1.580 pada 9 Februari 2026 lalu.

Dari segi kinerja bank, pertumbuhan kredit tercatat tipis di level 2%, namun Dana Pihak Ketiga (DPK) NISP di 2025 melonjak 18% menjadi Rp243,5 triliun.

Meski rasio CASA naik jadi 58%, pertumbuhan DPK yang pesat dibandingkan kredit membuat rasio loan-to-deposit (LDR) bank swasta ini merosot menjadi 70,32%, di bawah ketetapan rasio LDR ideal oleh Bank Indonesia di level 75-80%.

Merespon hal ini, Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur NISP, mengklaim bahwa per hari ini, Kamis (9/4), LDR NISP sudah kembali berada di atas 70%.

“Namun, perkiraan kami, kami melihat di tahun 2026 ini masih ada di kisaran di bawah 80%. Karena kami melihat dalam kondisi seperti saat ini, maupun di 2025, kami sangat memastikan bisa menjaga likuiditas dengan lebih baik,” tegasnya saat ditemui di Paparan Publik Tahunan, Kamis (9/4). (ZH)