Profesor Yale: AGI tidak akan rampas semua pekerjaan manusia

Kamis, 09 April 2026

image

JAKARTA – Ketakutan konvensional bahwa kecerdasan buatan umum (artificial general intelligence atau AGI) akan merampas seluruh pekerjaan manusia kini dibantah oleh sebuah riset terbaru.

Pascual Restrepo, Profesor Madya Ekonomi di Yale University yang sebelumnya meneliti bersama peraih Nobel Daron Acemoglu, berpendapat bahwa sebagian besar pekerjaan manusia tidak akan diotomatisasi di era AGI.

Dalam makalah kerja yang diterbitkan oleh National Bureau of Economic Research (NBER) berjudul "We Won't Be Missed: Work and Growth in the AGI World", Restrepo menyimpulkan bahwa AGI tidak membuat keterampilan manusia menjadi usang, melainkan menilai ulang nilainya.

Alasan utamanya bukanlah karena kecerdasan buatan tidak mampu, melainkan karena sebagian besar pekerjaan manusia dianggap tidak cukup penting atau tidak sepadan dengan biaya sumber daya komputasi (compute) yang dibutuhkan untuk menggantikannya.

Seperti dikutip finance.yahoo.com (04/04/2026), Restrepo membagi pekerjaan dalam ekonomi AI menjadi dua jenis.

Pertama adalah pekerjaan leher botol (bottleneck work) yang sangat esensial untuk pertumbuhan ekonomi, seperti memproduksi energi, memelihara infrastruktur, memajukan sains, menjaga keamanan nasional, mengurangi risiko eksistensial, bertahan dari asteroid, hingga menguasai energi fusi. Pekerjaan tingkat tinggi ini akan sepenuhnya diotomatisasi oleh komputasi.

Kedua adalah pekerjaan pelengkap (supplementary work) seperti seni, kerajinan, dukungan pelanggan, perhotelan, desain, penelitian akademis, hingga pekerjaan ekonom profesional. Karena ekonomi dapat terus berekspansi tanpa pekerjaan tersebut, AI akan mengabaikannya akibat tingginya biaya untuk mereplikasi elemen sosial manusia.

Dalam jangka panjang, total sumber daya komputasi dalam ekonomi diproyeksikan mencapai 10⁵⁴ operasi floating-point per detik (flops), yang akan membuat gabungan daya komputasi seluruh otak manusia yang hanya sekitar 10¹⁸ flops menjadi sangat kecil dan terpinggirkan secara ekonomi.

Meski manusia diproyeksikan masih memiliki pekerjaan pelengkap, Restrepo memperingatkan bahwa bertahan dari otomatisasi tidak sama dengan menikmati pertumbuhan ekonomi. Dalam dunia pasca-AGI, upah akan terpisah dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan pangsa tenaga kerja terhadap PDB akan menyusut mendekati nol karena mayoritas pendapatan mengalir kepada entitas pemilik komputasi.

Kekhawatiran distribusi kekayaan ini sejalan dengan surat tahunan CEO BlackRock, Larry Fink, yang memperingatkan bahwa AI akan memusatkan kekayaan di tangan segelintir pihak.

Fink mencatat bahwa 1 persen rumah tangga teratas AS kini memegang lebih banyak kekayaan daripada gabungan 90 persen rumah tangga terbawah, sementara 40 persen orang Amerika tidak memiliki eksposur yang berarti ke pasar modal.

Fink menyarankan solusi seperti tokenisasi (tokenization) dan perluasan investasi pensiun, sementara Restrepo mengusulkan penerapan pendapatan universal (universal income) atau memperlakukan komputasi sebagai sumber daya publik layaknya tanah.

Terkait pergeseran menuju masa depan tersebut, Restrepo mengidentifikasi dua mode transisi: transisi yang mengikat komputasi (compute-binding) di mana adopsi terjadi bertahap, dan transisi yang mengikat algoritma (algorithm-binding) yang melompat tiba-tiba dan memicu ketidaksetaraan ekstrem. Fase kedua ini sedang terjadi di AS pada tahun 2026, di mana pekerja teknis menikmati lonjakan upah premium.

Data dari platform perekrutan AISkillit, menunjukkan pekerja konstruksi pusat data kini berpenghasilan rata-rata US$81.800 per tahun, 32 persen lebih tinggi dari proyek biasa. Beberapa teknisi listrik bahkan meraup US$260.000 setahun, di mana pekerjaan kelistrikan memakan porsi 45 hingga 70 persen dari total biaya konstruksi pusat data.

Saat ini, AS diproyeksikan membutuhkan 300.000 teknisi listrik baru pada dekade mendatang untuk melengkapi 200.000 teknisi yang diperkirakan pensiun.

Secara agregat, Restrepo meyakinkan bahwa total pendapatan tenaga kerja pasca-AGI akan lebih tinggi dari garis dasar sebelumnya, sehingga populasi tidak akan menjadi lebih miskin.

Namun, judul makalahnya membawa pesan eksistensial yang tajam. Jika saat ini ekonomi akan runtuh bila separuh tenaga kerja tidak masuk kerja, di dunia AGI, hilangnya pekerja manusia tidak akan dirindukan atau menghambat roda ekonomi (we won't be missed).

Pada akhirnya, bagi sebagian besar tenaga kerja, pertanyaannya bukanlah apakah AI akan mengambil pekerjaan mereka, melainkan kesadaran bahwa pekerjaan mereka mungkin tidak pernah cukup penting untuk digantikan. (DH)