Tanker Glencore-CPC mulai antri masuk Hormuz
Jumat, 10 April 2026

JAKARTA - Perusahaan perdagangan komoditas Glencore dan kilang milik negara Taiwan, CPC Corporation, mulai mengamankan pasokan minyak dari Timur Tengah ke Asia setelah gencatan senjata perang AS-Iran.
Dikutip reuters, keduanya masing-masing menyewa kapal tanker untuk memuat minyak mentah, seiring kapal-kapal di Teluk bersiap melintasi Selat Hormuz yang sempat terganggu akibat konflik.
Gencatan senjata selama dua minggu membuka kembali jalur pelayaran di salah satu titik paling vital perdagangan energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia melewati selat ini, yang sebelumnya hampir terhenti selama enam minggu konflik dan mendorong lonjakan harga energi. Kilang di Asia sangat bergantung pada pasokan Timur Tengah, dengan porsi lebih dari separuh kebutuhan minyak mentah dan nafta.
Menteri Ekonomi Taiwan, Kung Ming-hsin, menyatakan CPC telah memesan satu tanker di Teluk untuk mengangkut sekitar 2 juta barel minyak.
“Jika pengiriman memungkinkan dalam dua minggu ke depan, barang itu bisa sampai,” Ia menambahkan, “Dengan 2 juta barel ini, mengingat kita menggunakan rata-rata sekitar 150.000 barel per hari, ini dapat menyediakan tambahan setengah bulan atau lebih untuk penggunaan. Jadi ini akan membantu meringankan ... situasi.”
Pelaku industri energi bergerak cepat mengamankan kapal hanya beberapa jam setelah kabar gencatan senjata muncul. Glencore menyewa VLCC Asian Lion dengan kapasitas 2 juta barel pada tarif W580, lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum perang. Tarif sewa melonjak akibat kombinasi lonjakan permintaan, premi risiko perang, dan terbatasnya ketersediaan kapal.
Produsen minyak Timur Tengah seperti Irak menyatakan kesiapan untuk memulihkan ekspor begitu jalur pelayaran sepenuhnya aman. Namun, pelaku pasar tetap berhati-hati karena ketidakjelasan teknis gencatan senjata. Iran masih membatasi kapal tanpa izin untuk melintas di Selat Hormuz.
Di sisi lain, sejumlah tanker berbendera China dan India mulai bergerak mendekati selat untuk keluar dari Teluk. Data pelayaran juga menunjukkan beberapa kapal mengisi tambahan minyak di pelabuhan Uni Emirat Arab sebelum melanjutkan perjalanan.
Iran bahkan merilis peta jalur alternatif untuk membantu kapal menghindari ranjau laut, menandakan risiko keamanan masih membayangi jalur energi global tersebut.(DH)