CEO ADNOC Sultan Ahmed Al-Jaber: Iran harus buka Hormuz tanpa syarat

Jumat, 10 April 2026

image

JAKARTA - CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Ahmed Al-Jaber, mengatakan pada Kamis (9/4), bahwa Selat Selat Hormuz masih tertutup dan Iran harus membukanya tanpa syarat serta bertanggung jawab atas kerusakan akibat serangan terhadap fasilitas energi.

Dikutip Reuters, dalam pernyataannya, Al-Jaber menegaskan jalur pelayaran tersebut secara efektif tidak terbuka sejak perang AS-Israel pecah pada 28 Februari. Ia menyebut akses pelayaran saat ini dibatasi dan dikendalikan oleh Iran.

"Iran telah memperjelas - baik melalui pernyataan maupun tindakannya - bahwa pelayaran tunduk pada izin, syarat, dan pengaruh politik. Itu bukanlah kebebasan navigasi. Itu adalah paksaan," tulisnya.

Ia menambahkan produsen energi harus dapat memulihkan produksi dengan cepat dan aman. ADNOC, menurutnya, telah memuat kargo dan akan meningkatkan produksi sesuai kemampuan di tengah kerusakan yang terjadi.

Sejumlah fasilitas energi di kawasan juga dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk di Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Al Jaber menegaskan UEA kembali menyatakan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi bersifat ilegal dan Iran harus bertanggung jawab penuh.

Laporan Reuters sebelumnya menyebut produksi minyak UEA turun lebih dari separuh sejak penutupan efektif selat tersebut, memaksa ADNOC menghentikan sebagian produksi.

ADNOC merupakan pilar ekonomi UEA, anggota OPEC yang sebelumnya menyumbang sekitar 4% produksi minyak global.

Analisis Reuters menunjukkan pendapatan minyak ADNOC pada Maret relatif stabil karena kenaikan harga menutupi penurunan volume produksi, dibantu ekspor melalui jalur alternatif. Al Jaber menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kunci stabilitas energi global.

"Selat tersebut harus dibuka sepenuhnya, tanpa syarat, dan tanpa batasan. Keamanan energi dan stabilitas ekonomi global bergantung padanya," kata Al-Jaber.

Ia juga menyebut sekitar 230 kapal tanker saat ini telah terisi dan siap berlayar, namun tertahan. Penundaan tersebut, menurutnya, memperketat pasokan dan mendorong kenaikan harga energi global.(DH)