Jerome Powell: Ini momen yang mengkhawatirkan
Jumat, 10 April 2026
JAKARTA - Pejabat Federal Reserve sudah melihat sejak rapat Maret bahwa perang AS-Iran akan mendorong inflasi lebih tinggi sepanjang tahun. Risalah rapat yang akan dirilis Rabu diperkirakan menguraikan lebih rinci risiko yang dinilai pembuat kebijakan terhadap ekonomi dan pasar tenaga kerja.
Seperti dikutip Reuters, ketika The Fed saat rapat 17-18 Maret, harga minyak global melonjak dari sekitar US$70 menjadi US$100 per barel. Hampir seluruh pejabat The Fed kemudian menaikkan proyeksi inflasi 2026.
Ketua The Fed Jerome Powell menyebut ketidakpastian masih tinggi dan bank sentral mempertimbangkan berbagai skenario dampak perang. "Kami memang sedikit membahas skenario alternatif," kata Powell.
"Situasinya sangat tidak pasti. Kita tidak seharusnya berasumsi bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana."
The Fed menahan suku bunga di kisaran 3,5%-3,75% dan belum memberi sinyal perubahan dalam waktu dekat. Ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini mulai bergeser menjadi jeda yang lebih panjang, bahkan hingga 2027.
Di sisi lain, kekhawatiran inflasi sudah muncul sebelum konflik, dengan laju harga bertahan di atas target 2%. Lonjakan harga energi akibat perang memperkuat risiko tersebut, sekaligus membuka kemungkinan tekanan terhadap pertumbuhan dan lapangan kerja jika konsumsi melemah.
Proyeksi terbaru menunjukkan inflasi berbasis Personal Consumption Expenditures (PCE) pada 2026 naik menjadi 2,7% dari sebelumnya 2,4%. Inflasi inti juga diperkirakan meningkat ke 2,7%.
Riset Federal Reserve Dallas menunjukkan risiko bisa lebih tinggi jika gangguan pasokan berlanjut. Penutupan Selat Hormuz selama tiga hingga enam bulan berpotensi mendorong harga minyak hingga US$132-US$167 per barel dan menambah inflasi AS hingga 1,47 poin persentase.
Lebih dari lima minggu sejak konflik pecah, kekhawatiran inflasi meningkat meski data tenaga kerja masih kuat. Presiden Chicago Fed Austan Goolsbee menilai kondisi saat ini semakin menekan.
"Saya optimistis bahwa kita akan kembali ke jalur inflasi 2%, tetapi astaga, belakangan ini malah berubah dari oranye menjadi merah."
"Kita mengalami kenaikan harga akibat tarif, yang seharusnya akan hilang, tetapi ternyata tidak, dan sekarang kita menambahkan guncangan stagflasi lain di atasnya. Ini momen yang mengkhawatirkan." (DH)