Serangan Iran ganggu Arab Saudi, produksi minyak turun 600 ribu barel

Jumat, 10 April 2026

image

JAKARTA - Operasional sejumlah fasilitas energi di Arab Saudi dihentikan setelah serangkaian serangan yang menargetkan sektor minyak, gas, dan listrik, menurut laporan Saudi Press Agency yang mengutip sumber Kementerian Energi.

Dikutip Aljazeera, serangan terjadi di Riyadh, Provinsi Timur, dan kawasan industri Yanbu. Satu personel keamanan industri dari perusahaan energi nasional tewas, sementara tujuh lainnya mengalami luka.

Dalam beberapa pekan terakhir, negara-negara Teluk menghadapi serangan drone dan rudal yang dikaitkan dengan Iran, menyusul konflik dengan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari.

Serangan tersebut memangkas kapasitas produksi minyak Arab Saudi sekitar 600.000 barel per hari. Pemerintah menyebut gangguan berlanjut berpotensi menekan pasokan global dan memperlambat pemulihan sektor energi.

Pejabat Kementerian Energi menegaskan dampak serangan tidak hanya terbatas pada produksi domestik, tetapi juga memicu ketidakstabilan pasar global. “...menyebabkan berkurangnya pasokan, memperlambat pemulihan, dan berkontribusi pada peningkatan volatilitas di pasar minyak...” ujarnya.

Harga minyak kembali naik setelah sebelumnya melemah, seiring meningkatnya ketidakpastian atas gencatan senjata antara AS dan Iran serta prospek pembukaan kembali Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump mengumumkan jeda perang selama dua pekan untuk membuka ruang negosiasi. Iran menyatakan akan membuka kembali jalur tersebut, namun situasi tetap tidak stabil akibat serangan lanjutan di kawasan. Selain itu, Teheran juga menyatakan rencana mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, menambah tekanan terhadap distribusi energi global.(DH)