Dispute dengan BYD, buka dilema Malaysia kembangkan mobil lokal
Jumat, 10 April 2026

JAKARTA - Ketegangan antara pemerintah Malaysia dan BYD terkait rencana pembangunan pabrik perakitan kendaraan listrik menyoroti dilema kebijakan industri otomotif negara tersebut.
Dikutip channelnewsasia, pemerintah melalui Ministry of Investment, Trade and Industry (MITI) menetapkan sejumlah syarat untuk proyek BYD di Tanjung Malim, Perak. Di antaranya kewajiban ekspor minimal 80% produksi serta pembatasan penjualan domestik.
Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Johari Abdul Ghani menyebut BYD belum menyetujui ketentuan tersebut. “Inilah syarat-syarat yang tidak bisa mereka sepakati. Kita harus melindungi industri otomotif kita,” ujarnya.
MITI membantah kebijakan tersebut bersifat proteksionis dan menegaskan aturan dirancang untuk mendorong investasi bernilai tinggi, transfer teknologi, serta penciptaan lapangan kerja berkelanjutan. Pemerintah juga menyatakan harga minimum kendaraan listrik rakitan lokal sebesar RM100.000, bukan RM200.000 seperti yang dilaporkan sebelumnya.
BYD sebelumnya merencanakan investasi sekitar RM1,3 miliar untuk fasilitas perakitan di KLK Tech Park dengan target operasi pada paruh kedua 2026. Namun hingga kini belum ada kepastian terkait realisasi pembangunan proyek tersebut.
Analis menilai kebijakan Malaysia bertujuan menjaga ekosistem industri otomotif domestik, termasuk pemain nasional seperti Proton dan Perodua, sekaligus mendorong pergeseran ke aktivitas bernilai tambah tinggi.
Di sisi lain, syarat investasi yang lebih ketat berpotensi meningkatkan hambatan masuk bagi produsen global dan memengaruhi keputusan investasi. “Syarat yang lebih ketat dapat meningkatkan ambang batas investasi dan menunda atau mengubah proyek-proyek tertentu. Namun Malaysia tetap menjadi tujuan aktif untuk investasi otomotif,” kata analis dari Nanyang Technological University.
MITI menegaskan kebijakan tersebut berlaku untuk semua investor otomotif baru dan tidak hanya ditujukan kepada BYD. Pemerintah juga tetap membuka peluang investasi asing, termasuk dari produsen China seperti Chery dan Zeekr.
Malaysia menargetkan transformasi industri otomotif menuju kendaraan generasi baru dengan nilai tambah lebih tinggi, tanpa mengganggu rantai pasok domestik yang selama ini menopang ratusan ribu tenaga kerja dan sekitar 4% produk domestik bruto.(DH)