StanChart: Koreksi harga minyak terlalu dalam, berpotensi melonjak
Jumat, 10 April 2026
JAKARTA - Harga minyak mengalami penurunan terbesar sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, dengan Brent kontrak Juni dan WTI kontrak Mei turun ke kisaran pertengahan US$90 per barel seiring melemahnya harga produk olahan.Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan, di mana Teheran membuka jalur aman bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz.Seperti dikutip Oilprice, periode tersebut dimaksudkan sebagai waktu untuk merampungkan kesepakatan damai permanen, dengan pembicaraan resmi dijadwalkan berlangsung di Pakistan.Namun, analis komoditas Standard Chartered menilai koreksi harga minyak berpotensi terlalu dalam, sehingga harga dapat kembali melonjak jika muncul eskalasi baru atau retorika perang kembali meningkat.Sebelumnya, bank tersebut memproyeksikan harga Brent pada kuartal II berada di level US$98 per barel dan WTI di US$92,5 per barel.Pada perdagangan pukul 14.30 ET, Brent kontrak Juni berada di US$95,57 per barel, sedangkan WTI kontrak Mei di US$96,99 per barel.Menurut Standard Chartered, pergerakan harga jangka pendek masih sangat dipengaruhi dinamika eskalasi dan de-eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu sejumlah titik ketegangan regional, mengurangi lalu lintas kapal di Selat Hormuz, serta menahan produksi negara-negara Teluk.Brent tercatat berada dalam kondisi backwardation, dengan bagian akhir kurva harga stabil di kisaran US$67–70 per barel.Meski demikian, harga minyak diperkirakan tetap berada US$10–20 per barel lebih tinggi dibanding level sebelum konflik, didukung pembelian untuk cadangan strategis dan hambatan logistik akibat gangguan pasokan.Standard Chartered memperkirakan kondisi ini akan berlanjut meskipun OPEC berupaya mengembalikan produksi ke kapasitas maksimum.Walaupun sebagian besar produksi Teluk berasal dari reservoir bertekanan cukup sehingga dapat kembali beroperasi dengan cepat, jalur pelayaran di Selat Hormuz dinilai belum sepenuhnya bebas risiko.Arus minyak masih bergantung pada persetujuan Iran, sementara detail teknis keamanan pelayaran tetap belum jelas dan berpotensi memengaruhi tarif pengiriman serta biaya asuransi kapal.Kemungkinan penerapan biaya transit juga masih belum pasti, meskipun Menteri Transportasi Oman menyatakan seluruh perjanjian transportasi laut telah ditandatangani tanpa biaya tambahan bagi kapal yang melintas.Meski begitu, sejumlah laporan media menyebut kapal masih memerlukan izin dari angkatan laut Iran untuk menghindari risiko serangan.Standard Chartered menilai kemampuan Iran mengendalikan pasokan energi global dalam skala besar tidak akan dapat diterima produsen Teluk dalam jangka panjang, meskipun untuk sementara ditoleransi guna mengurai antrean kapal.Bank tersebut memperkirakan terdapat 426 kapal tanker, 34 kapal LPG, dan 19 kapal LNG yang tertahan di Selat Hormuz, dengan muatan LNG diperkirakan menjadi yang pertama kembali melintas.Baru-baru ini, dua kapal LNG Qatar terpaksa membatalkan upaya keluar dari Selat Hormuz, yang seharusnya menjadi ekspor LNG pertama negara tersebut dalam lebih dari satu bulan.Kapal tersebut memuat kargo pada akhir Februari sebelum konflik memanas, kemudian bergerak menuju pintu timur selat dekat Oman.Namun akhirnya berbalik arah setelah Iran secara efektif membatasi jalur pelayaran dan hanya mengizinkan kapal yang dianggap tidak bermusuhan untuk melintas.Meski prospek minyak dinilai masih kuat, outlook gas alam dinilai tidak seoptimistis itu.Standard Chartered mencatat pasar relatif mampu menyesuaikan diri terhadap hilangnya sebagian besar pasokan gas Timur Tengah dalam jangka pendek.Gangguan pengiriman LNG dari Qatar dan Uni Emirat Arab diperkirakan akan diimbangi peningkatan pasokan LNG global pada 2026, terutama dari Amerika Serikat.
Produksi LNG AS diperkirakan meningkat sekitar 13% pada 2026, didorong tambahan kapasitas dari proyek Plaquemines milik Venture Global LNG serta Corpus Christi Stage 3 milik Cheniere Energy.Proyek Port Arthur LNG di Texas dan Rio Grande LNG dijadwalkan mulai beroperasi pada 2027–2028, diikuti proyek lain pada 2030–2031.Kapasitas ekspor LNG AS diproyeksikan meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2024 hingga 2028, dengan volume ekspor diperkirakan naik dari 11,9 Bcf per hari pada 2024 menjadi 21,5 Bcf per hari pada 2030.Ekspansi pesat ini membutuhkan tambahan infrastruktur transportasi gas, termasuk proyek pipa Matterhorn Express Pipeline yang diharapkan membantu mengurangi keterbatasan kapasitas penyaluran dan menstabilkan harga di Waha Hub. (DK)