Managing Director IMF: Perang Iran tinggalkan luka bagi ekonomi global
Jumat, 10 April 2026
WASHINGTON - Dana Moneter Internasional atau (International Monetary Fund/IMF) memperingatkan bahwa perang Iran akan meninggalkan dampak jangka panjang bagi perekonomian global, bahkan jika kesepakatan damai permanen di Timur Tengah berhasil dicapai.Dalam pidatonya saat gencatan senjata berisiko runtuh, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyatakan efek “scarring” atau luka ekonomi akibat konflik sejauh ini akan membuat pertumbuhan global tahun ini lebih lambat dari perkiraan awal.Seperti dikutip The Guardian, Georgieva mengatakan tanpa konflik yang pecah enam pekan lalu, IMF kemungkinan akan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026.Namun kini, bahkan skenario paling optimistis tetap mengarah pada revisi turun. Menurutnya, tidak akan ada pemulihan yang sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang.Memasuki pekan keenam konflik, masa depan gencatan senjata bersyarat yang diumumkan Selasa lalu masih belum pasti, seiring perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran terkait isi kesepakatan.Harga minyak dunia sempat menguat di tengah volatilitas pasar keuangan global, mencerminkan kekhawatiran gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi ekonomi dunia.Dalam pidato pembuka menjelang pertemuan musim semi IMF di Washington pekan depan, Georgieva menegaskan ketidakpastian tinggi terkait seberapa dalam perlambatan ekonomi global akibat perang.Meski demikian, seluruh skenario dalam laporan World Economic Outlook terbaru menunjukkan adanya penurunan permanen terhadap standar hidup global.Sebelumnya, pada musim gugur lalu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1% pada 2026, sedikit melambat dari 3,2% pada 2025, didukung investasi teknologi berbasis kecerdasan buatan yang menjaga ketahanan ekonomi meski terjadi perang tarif Amerika Serikat.Menurut Georgieva, ekonomi global memasuki periode konflik dengan momentum yang cukup kuat, ditopang investasi teknologi dan kondisi pasar keuangan yang relatif kondusif.Namun kerusakan infrastruktur, gangguan rantai pasok, penurunan kepercayaan, serta dampak jangka panjang lain akibat perang diperkirakan tetap menekan pertumbuhan, terlepas dari hasil perundingan damai.Ketidakpastian terkait kelancaran pengiriman melalui kawasan Teluk dan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan produksi minyak dan gas di fasilitas yang terdampak serangan turut menambah risiko.IMF menilai gangguan tersebut berpotensi berlangsung lebih lama.Georgieva menambahkan negara pengimpor minyak bersih, negara berpendapatan rendah, serta negara kepulauan kecil akan menghadapi dampak lebih berat.Ia juga mengingatkan pemerintah agar menghindari kebijakan sepihak seperti pembatasan ekspor atau pengendalian harga yang justru berpotensi memperburuk kondisi global.IMF mendorong pemerintah memberikan dukungan yang bersifat terarah dan sementara bagi kelompok rentan.Pemotongan pajak besar-besaran atau subsidi energi yang mahal dinilai berisiko memicu inflasi sekaligus memperlemah kondisi fiskal yang sudah rapuh.Bank sentral juga diminta berhati-hati dalam menentukan suku bunga, namun tetap siap bertindak jika tekanan inflasi meningkat.Komentar Georgieva sejalan dengan peringatan Gubernur Bank of England Andrew Bailey yang menilai ekonomi global tengah menghadapi guncangan besar akibat konflik.Bailey, yang juga memimpin Financial Stability Board, mengatakan volatilitas pasar meningkat tajam sejak perang di Timur Tengah pecah dan risiko masih tinggi selama situasi kawasan tetap tidak stabil. (DK)