Laba melonjak, YULE bagi dividen senilai Rp10 per saham

Jumat, 10 April 2026

image

JAKARTA - Di tengah lonjakan kinerja sepanjang 2025, PT Yulie Sekuritas Indonesia Tbk (YULE) akan bagikan dividen tunai dengan nilai total Rp15,87 miliar atau Rp10 per saham.

Keputusan ini di setujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan dan Public Expose yang diselenggarakan pada hari Jumat (10/4).

Direktur YULE, Agustinus Sumandar, mengungkapkan bahwa laba bersih Perseroan sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp132 miliar sehingga dividen payout ratio 12,01%.

“Laba bersih kita sebesar Rp132 miliar, dan dividen yang dibagikan Rp10 per saham sehingga dividen payout ratio 12,01%,” ujar Agustinus.

Meski demikian, Agustinus menegaskan bahwa kebijakan dividen tersebut masih menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

“Dibanding tahun lalu, dividen kami hanya sekitar Rp8 per saham. Tahun ini naik 25%. Ke depan kami berharap dividen bisa terus meningkat secara progresif,” katanya.

Di sisi kinerja, YULE membukukan performa yang jauh melampaui target. Pendapatan tercatat mencapai 165% dari target semula Rp62,62 miliar, total yang tercapai Rp166,246 miliar hingga akhir 2025, sementara laba usaha melonjak hingga 282% dari Rp35,36 miliar, yang terealisasi hingga Rp141,30 miliar.

Menurut Agustinus, lonjakan tersebut disebut tidak lepas dari strategi konservatif yang diterapkan sejak awal tahun, di tengah ketidakpastian global dan geopolitik.

“Pada awal tahun 2025 kondisi global maupun geopolitik banyak gonjang-ganjing, sehingga kami membuat proyeksi yang sangat konservatif,” katanya.

Namun, di tengah kehati-hatian tersebut, Perseroan berhasil menangkap momentum pasar, terutama dari aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) yang meningkat dan mendapat respons tinggi dari investor.

“Kami melihat ada momentum di pasar modal, termasuk beberapa IPO dengan animo luar biasa. Kami memanfaatkan peluang itu dan mendorong nasabah untuk bertransaksi melalui kami,” ujarnya.

Selain itu, YULE juga menyiapkan sejumlah strategi bisnis untuk 2026, mulai dari penguatan platform digital U-Trade hingga ekspansi bisnis penjaminan emisi efek (investment banking), seiring upaya menjaga pertumbuhan kinerja di tengah pasar yang semakin kompetitif.

Agustinus menyatakan, strategi utama Perseroan difokuskan pada dua lini bisnis inti, yakni perantara pedagang efek dan penjamin emisi efek, dengan pendekatan ekspansi sekaligus peningkatan kualitas layanan.

“Untuk bisnis perantara pedagang efek, kami akan terus meningkatkan platform online trading U-Trade sesuai dengan kebutuhan nasabah yang berkembang,” ujarnya.

Selain itu, Perseroan juga membidik pertumbuhan nasabah institusi dengan aktif berpartisipasi dalam berbagai forum industri keuangan.

“Kami juga akan berpartisipasi dalam event asosiasi dana pensiun, asuransi, untuk menambah nasabah institusi,” lanjutnya.

Tidak hanya itu, perusahaan mulai memperluas sumber pendapatan melalui kerja sama dengan manajer investasi untuk distribusi produk reksa dana.

“Kami akan bekerja sama dengan beberapa manajer investasi untuk menjual produk reksa dana mereka,” katanya.

Di sisi investment banking, YULE menargetkan peningkatan jumlah mandat transaksi, termasuk penawaran umum perdana saham (IPO), rights issue, hingga obligasi.

“Kami ingin meningkatkan jumlah funder penjamin emisi efek, baik itu IPO, right issue, obligasi, dan lainnya,” jelas manajemen.

Perseroan juga mulai mengarahkan fokus ke sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi seperti teknologi, energi hijau, barang konsumsi, dan kesehatan.

“Kami memperluas fokus ke calon emiten di industri bertumbuh seperti teknologi, energi hijau, consumer goods, dan kesehatan,” ujarnya.

Untuk menjaga kualitas deal, perusahaan menegaskan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam proses seleksi emiten.

“Kami tetap melakukan due diligence yang mumpuni untuk memastikan kelayakan calon emiten,” tambahnya. (DK)