Perang Iran picu lonjakan margin kilang AS di Gulf Coast
Sabtu, 11 April 2026
NEW YORK - Kilang minyak di wilayah Gulf Coast Amerika Serikat menikmati margin tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.Mengutip dari Reuters, hal ini seiring terganggunya aliran minyak dari Timur Tengah akibat perang Iran yang meningkatkan permintaan ekspor bahan bakar dari AS, menurut analis.Kilang di Asia dan Eropa terpukul oleh turunnya ekspor minyak mentah Timur Tengah setelah Iran memblokade Selat Hormuz, memaksa sejumlah produsen mengurangi produksi.Pada Selasa, Presiden AS Donald Trump mengatakan telah menyepakati gencatan senjata dua pekan dengan Iran dengan syarat Selat Hormuz kembali dibuka, meski lalu lintas kapal tanker masih terbatas dan keberlanjutan kesepakatan tersebut diragukan.Kilang AS yang relatif tidak bergantung pada minyak mentah Timur Tengah berada dalam posisi diuntungkan karena mampu memaksimalkan penjualan ke pasar global yang mengalami kekurangan pasokan.Amerika Serikat, sebagai pasar bahan bakar terbesar di dunia, memiliki kapasitas pengolahan sekitar 18 juta barel per hari, sebagian besar berlokasi di pusat ekspor Gulf Coast.Perusahaan kilang independen besar seperti Marathon Petroleum, Phillips 66, Valero Energy, dan PBF Energy menjadi pihak yang diuntungkan karena berlokasi dekat titik awal Colonial Pipeline dan memiliki akses langsung ke terminal ekspor laut.Pendiri Krimmel Strategy, Jeff Krimmel, mengatakan kilang AS memiliki peluang besar menjual produk ke pasar yang mengalami kelangkaan tanpa menghadapi gangguan berarti pada pasokan bahan baku mereka.Tingkat utilisasi kilang AS naik mendekati 92% bulan lalu, dengan utilisasi di Gulf Coast rata-rata di atas 95%, meningkat dari sekitar 90% pada periode yang sama tahun lalu, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).Angka ini jauh di atas rata-rata musiman lima tahun sekitar 82% di kawasan tersebut.Sebaliknya, utilisasi kilang di Asia turun ke kisaran rendah hingga pertengahan 80% setelah pemangkasan produksi pada Maret dan April, menurut konsultan Rystad Energy.Data pelacakan kapal menunjukkan ekspor produk olahan AS mencapai rekor tertinggi pada Maret.Lonjakan ekspor tersebut mendorong kenaikan tajam margin kilang setelah sebelumnya tertekan oleh kelebihan pasokan global.Meningkatnya permintaan ekspor juga berkontribusi pada kenaikan harga bahan bakar domestik, karena kilang memperoleh harga lebih tinggi di pasar internasional, meski harga bensin dan solar di AS mendekati rekor tertinggi.Dampak paling terlihat terjadi pada pasar diesel dan bahan bakar jet, yang paling terpukul oleh perang Iran karena Timur Tengah merupakan pemasok utama kedua produk tersebut serta minyak mentah dengan hasil sulingan tinggi.Kontrak berjangka diesel ultra-low sulfur AS diperdagangkan dengan premi lebih dari US$72 per barel terhadap minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), naik dari sekitar US$40 sebelum perang.Sementara itu, kontrak berjangka bensin AS mencatat premi hampir US$26 terhadap minyak mentah, meningkat dari sekitar US$18 sebelum konflik. (DK)