Gencatan senjata buka napas ekonomi Iran, daya beli masih lemah

Minggu, 12 April 2026

image

JAKARTA – Gencatan senjata dalam konflik antara Iran dan Amerika Serikat memberikan jeda sementara bagi aktivitas ekonomi domestik, setelah periode ketegangan yang intens.

Sejumlah indikator awal menunjukkan tanda pemulihan, terutama di pusat perdagangan seperti Pasar Besar di Teheran. Mengutip Al Jazeera, Sabtu (11/4), lebih banyak toko mulai kembali beroperasi dengan jam buka yang lebih panjang dibandingkan sebelum gencatan senjata diberlakukan.

Namun demikian, pelaku usaha menyatakan bahwa aktivitas perdagangan masih lesu dan belum kembali ke level normal sebelum konflik. Seorang pedagang di sektor logam menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai “hampir stagnan”, mencerminkan lemahnya daya beli masyarakat.

Tekanan inflasi tetap menjadi tantangan utama. Harga barang dari distributor dilaporkan meningkat sekitar 20%–30% dibandingkan akhir Januari. Kenaikan ini tidak hanya dipicu oleh inflasi yang telah berlangsung sebelumnya, tetapi juga diperparah oleh gangguan rantai pasok serta ketidakpastian impor selama konflik berlangsung.

Pelaku usaha juga menghadapi ketidakjelasan terkait ketersediaan barang ke depan, termasuk waktu pengiriman dan biaya logistik untuk mendatangkan produk dari luar negeri.

Di sisi lain, pembatasan internet yang kembali diberlakukan secara luas turut menekan aktivitas ekonomi, khususnya di sektor digital. Penjualan daring dilaporkan turun signifikan karena konsumen kesulitan mengakses berbagai platform dan layanan.

Sejumlah pelaku usaha kehilangan sumber pendapatan utama mereka. Seorang pengajar daring, misalnya, mengaku kesulitan menjalankan kelas karena harus beralih ke platform lokal yang terbatas, sekaligus kehilangan akses ke peserta internasional.

Pemerintah menyatakan bahwa pembatasan internet dilakukan atas dasar pertimbangan keamanan. Meski terdapat wacana pemberian dukungan bagi bisnis digital, implementasinya dinilai masih belum jelas dan belum menjangkau sebagian besar pelaku usaha.

Selain itu, rencana penerapan sistem internet berjenjang, yang membatasi akses berdasarkan kategori pengguna, berpotensi semakin menekan aktivitas ekonomi digital.

Dalam jangka lebih panjang, dampak konflik terhadap infrastruktur diperkirakan akan membebani proses pemulihan ekonomi. Sejumlah fasilitas strategis, termasuk di sektor industri, transportasi, dan energi, dilaporkan mengalami kerusakan.

Perbaikan infrastruktur tersebut diperkirakan memerlukan waktu bertahun-tahun, terutama di tengah kondisi fiskal yang telah tertekan sebelum konflik terjadi.

Meski aktivitas mulai menunjukkan pemulihan seiring gencatan senjata, berbagai tantangan struktural seperti inflasi tinggi, disrupsi digital, dan ketidakpastian geopolitik masih membayangi.

Dengan kondisi tersebut, pemulihan ekonomi Iran dalam jangka pendek diperkirakan akan berlangsung terbatas, dengan prospek yang sangat bergantung pada stabilitas keamanan serta arah kebijakan ekonomi ke depan. (GA)

Terkait:  JD Vance: Iran menolak persyaratan yang diminta Amerika