Pew Research: Pandangan warga AS ke Netanyahu dan Israel kian negatif
Minggu, 12 April 2026

JAKARTA -- Survei terbaru dari Pew Research Center mengungkapkan warga Amerika semakin memiliki pandangan negatif terhadap Israel dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Seperti dikutip dari Pewresearch.org, Selasa (7/4), survei tersebut dilakukan pada 23–29 Maret terhadap 3.507 orang dewasa di AS, atau sekitar sebulan setelah dimulainya perang yang dipimpin AS dan Israel di Iran. Berikut hasil lengkap temuan survei tersebut.
***Pandangan Warga Amerika terhadap Israel
Enam dari sepuluh warga Amerika memiliki pandangan sangat atau agak tidak menguntungkan terhadap Israel, naik 7 poin persentase dibanding tahun lalu dan hampir 20 poin sejak 2022.
Persentase warga yang memiliki pandangan sangat tidak menguntungkan terhadap Israel (28%) juga meningkat 9 poin dalam setahun terakhir, bahkan hampir tiga kali lipat dari 10% pada 2022.
Di kalangan Demokrat dan independen yang condong ke Demokrat, delapan dari sepuluh responden kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel, naik dari 69% tahun lalu dan 53% pada 2022. Demokrat berusia di bawah 50 tahun juga sedikit lebih cenderung memiliki pandangan sangat negatif dibandingkan yang lebih tua (47% berbanding 39%).
Sementara itu, di kalangan pemilih Partai Republik, lebih banyak yang masih memandang Israel secara positif dibandingkan negatif (58% berbanding 41%). Meski demikian, tren pandangan negatif di kelompok ini juga meningkat, terutama pada responden berusia di bawah 50 tahun. Saat ini, 57% Republik usia 18 hingga 49 tahun memiliki pandangan tidak menguntungkan terhadap Israel, naik dari 50% tahun lalu. Sebaliknya, mayoritas Republik berusia 50 tahun ke atas tetap memandang Israel secara positif.
Perbedaan pandangan juga terlihat jelas antar kelompok agama. Warga Yahudi Amerika dan Protestan evangelis kulit putih umumnya memiliki pandangan positif terhadap Israel, masing-masing sebesar 64% dan 65%.
Sebaliknya, pandangan positif jauh lebih rendah di kalangan Protestan kulit putih non-evangelis (39%), Katolik (35%), Protestan kulit hitam (33%), serta kelompok yang tidak berafiliasi dengan agama (22%), yakni mereka yang mengidentifikasi diri sebagai ateis, agnostik, atau tidak memiliki identitas keagamaan tertentu. Di kalangan Muslim Amerika, hanya 4% yang memandang Israel secara positif.
***Kepercayaan Warga Amerika terhadap Netanyahu
Sekitar enam dari sepuluh warga Amerika (59%) memiliki sedikit atau tidak ada kepercayaan pada Benjamin Netanyahu untuk mengambil keputusan yang benar dalam urusan dunia. Angka ini naik 7 poin dibanding tahun lalu dan hampir 20 poin sejak 2023.
Mayoritas besar Demokrat (76%) menyatakan tidak percaya kepada Netanyahu, meningkat 6 poin dalam setahun terakhir. Bahkan, sekitar setengah dari mereka (52%) menyatakan sama sekali tidak memiliki kepercayaan, naik dari 37% tahun lalu. Pola ini relatif konsisten di semua kelompok usia Demokrat.
Di sisi lain, penilaian di kalangan Republik cenderung terpecah: 45% menyatakan memiliki kepercayaan, sementara 44% menyatakan sebaliknya. Ini berbeda dari survei sebelumnya, di mana lebih banyak Republik yang cenderung percaya dibandingkan yang tidak.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan usia. Republik berusia 50 tahun ke atas hampir dua kali lebih mungkin mempercayai Netanyahu dibandingkan mereka yang lebih muda (58% berbanding 30%).
Dilihat dari latar belakang agama, 52% Protestan evangelis kulit putih menyatakan percaya pada Netanyahu dalam menangani urusan global. Sementara itu, kelompok agama lain cenderung lebih terpecah atau negatif. Misalnya, 56% Yahudi Amerika menyatakan tidak atau kurang percaya, sementara di kalangan Muslim Amerika angkanya mencapai 91%, termasuk 74% yang sama sekali tidak percaya.
***Kepercayaan terhadap Trump dalam Hubungan AS–Israel
Lebih dari setengah warga Amerika (55%) menyatakan tidak percaya pada Presiden Donald Trump dalam membuat keputusan terkait hubungan antara AS dan Israel. Angka ini relatif tidak berubah sejak Agustus 2025.
Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap Trump dalam isu ini masih sedikit lebih tinggi dibandingkan kepercayaan terhadap kebijakan luar negeri lainnya, seperti kebijakan AS terhadap Iran yang hanya mencapai 35%.
Di kalangan Republik, sekitar 73% menyatakan percaya pada Trump, sementara di kalangan Demokrat hanya 16%. Perbedaan usia juga mencolok di kubu Republik: hanya 52% responden di bawah 30 tahun yang percaya, dibandingkan 93% pada kelompok usia 65 tahun ke atas. Sementara itu, Demokrat cenderung lebih seragam dalam pandangan mereka.
***Pentingnya Konflik Israel–Hamas bagi Warga Amerika
Lebih dari separuh warga Amerika (53%) menilai konflik antara Israel dan Hamas sangat atau cukup penting bagi mereka secara pribadi. Angka ini relatif tidak berubah dibandingkan tahun lalu, sebelum diberlakukannya gencatan senjata.
Namun, konflik ini dinilai kurang penting dibandingkan aksi militer AS terhadap Iran, yang dianggap penting oleh 77% responden. Hanya 22% yang menyebut konflik Israel–Hamas sangat penting, dibandingkan 48% yang mengatakan hal yang sama terhadap kampanye militer AS di Iran.
Baik Republik maupun Demokrat memiliki tingkat kepedulian yang relatif sama terhadap konflik ini. Namun, di kalangan Republik, responden berusia 50 tahun ke atas jauh lebih menganggap konflik ini penting dibandingkan yang lebih muda (69% berbanding 43%). Sementara di kalangan Demokrat, perbedaan usia tidak terlalu signifikan.
Dari sisi agama, 91% Yahudi Amerika menyatakan konflik ini penting bagi mereka secara pribadi. Angka serupa juga terlihat pada Muslim Amerika (70%) dan Protestan evangelis kulit putih (65%), yang relatif tidak berubah sejak tahun lalu.
Menariknya, warga Yahudi dan Muslim Amerika menilai konflik Israel–Hamas sama pentingnya dengan aksi militer AS di Iran. Sementara itu, Protestan evangelis kulit putih cenderung menganggap konflik ini kurang penting dibandingkan kampanye militer AS di Iran (65% berbanding 86%). (YS)