Negosiasi dengan Iran gagal, Trump: AL Amerika blokade Selat Hormuz
Senin, 13 April 2026

JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan blokade penuh Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan, Minggu (12/4).
Pengumuman disampaikan melalui platform Truth Social, seperti dikutip The Telegraph, Minggu (13/04), tak lama setelah Wakil Presiden JD Vance menyatakan bahwa negosiasi gagal mencapai titik krusial.
“Efektif segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses memblokade setiap kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” tulis Trump.
Ia juga menyatakan bahwa kapal yang terbukti membayar izin lintas kepada Iran akan dicegat. Selain itu, Angkatan Laut AS diperintahkan untuk menghancurkan ranjau laut yang dipasang di perairan tersebut. Trump menambahkan bahwa negara lain akan turut serta dalam operasi ini, tanpa merinci pihak yang terlibat.
Blokade resmi ini diumumkan di tengah kondisi Selat Hormuz yang telah mengalami pembatasan lalu lintas sejak akhir Februari.
Situasi tersebut bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Pasca-serangan tersebut, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menutup selat untuk sebagian besar lalu lintas. Dalam beberapa hari, volume kapal tanker dilaporkan turun lebih dari 90%, mengganggu pasokan sekitar 10 juta barel minyak per hari di pasar global.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis energi dunia, dengan sekitar 20% konsumsi minyak global dan 20% perdagangan LNG melewati kawasan ini setiap hari.
Negara-negara Asia menjadi penerima utama aliran minyak tersebut, termasuk China sebagai salah satu importir terbesar.
***Pergerakan Armada AS di Kawasan
Amerika Serikat sebelumnya diketahui telah menempatkan sejumlah armada tempur kekuatan laut di kawasan.
Berdasarkan data Fleet Tracker per 6 April 2026 yang dirilis USNI News, beberapa kapal tempur utama tercatat aktif di Laut Arab, Laut Merah, dan wilayah tanggung jawab CENTCOM.
Di Laut Arab, gugus tempur yang dipimpin oleh USS Abraham Lincoln (CVN-72) menjalankan Operation Epic Fury. Kapal induk ini membawa Carrier Air Wing 9 yang terdiri dari:
Pengawalan dilakukan oleh kapal perusak berpeluru kendali antara lan:
Di Laut Merah, dua kapal perusak, USS Bainbridge (DDG-96) dan USS Thomas Hudner (DDG-116), juga tercatat beroperasi pada periode yang sama.
Sementara itu, kekuatan amfibi dipimpin oleh USS Tripoli (LHA-7) bersama USS New Orleans (LPD-18) dan unsur Pasukan Ekspedisi Marinir ke-31 di wilayah operasi.
Kapal amfibi lainnya dilaporkan dalam perjalanan menuju kawasan untuk memperkuat gugus tersebut.
***Respons Pasar Energi
Harga minyak diperkirakan akan naik setelah gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran, serta janji Donald Trump untuk memblokade Selat Hormuz.
Janiv Shah, Wakil Presiden Pasar Minyak di Rystad Energy, mengatakan blokade tersebut dapat mendorong kenaikan harga karena konflik kembali meningkat, ditambah perundingan damai yang tidak menghasilkan kesepakatan.
Para trader di platform IG saat ini memperkirakan harga minyak AS akan naik ke 98 dolar per barel saat perdagangan dibuka pada Senin pagi, dibandingkan harga penutupan 96,57 dolar pada Jumat.
Kirill Dmitriev, Utusan Ekonomi Vladimir Putin, menyatakan di X bahwa harga minyak bisa segera mencapai 150 dolar per barel.
Namun, Neil Wilson, Ahli Strategi Investasi di Saxo UK, mengatakan pasar sudah mulai jenuh terhadap pernyataan Presiden Trump dan memperkirakan dampaknya mungkin lebih terbatas.
“Kami dan pasar tahu bahwa Trump mengancam untuk meningkatkan eskalasi demi bernegosiasi.”
Wilson menambahkan bahwa banyak investor masih berpegang pada strategi “Taco” – Trump Always Chickens Out (Trump selalu mundur pada akhirnya). Artinya, investor bertaruh kenaikan harga minyak akan terbatas karena percaya presiden pada akhirnya akan mundur dari ancaman blokade tersebut. (YS/MT)