Amerika akan blokade Selat Hormuz, dolar AS menguat di pasar Asia
Senin, 13 April 2026

LONDON – Dolar AS melonjak terhadap mata uang utama lainnya pada awal perdagangan Asia, Senin (13/4).
Hal ini seiring investor memburu aset aman setelah perundingan panjang antara Washington dan Teheran gagal menghasilkan kesepakatan damai.
Seperti dikutip Reuters, kondisi ini memperpanjang ketidakpastian pasar hingga memasuki minggu ketujuh.
Presiden Donald Trump pada Minggu mengatakan Angkatan Laut AS akan mulai memblokade Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan energi harian dunia dan praktis telah ditutup Iran sejak perang pecah pada akhir Februari.
Langkah ini mendorong harga minyak naik lebih dari 30% dan memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global.
Dolar, yang dianggap sebagai aset safe haven karena paparan Amerika Serikat yang relatif kecil terhadap inflasi energi impor, menguat saat pasar Asia dibuka.
Euro turun 0,53% ke level US$1,1663, sementara dolar naik 0,1% terhadap yen Jepang ke 159,43.
Kontrak berjangka saham AS juga melemah, dengan indeks futures turun lebih dari 1% pada akhir perdagangan Minggu waktu setempat.
Sebelumnya, harapan berakhirnya konflik Timur Tengah sempat mengangkat pasar, terutama setelah pengumuman gencatan senjata pekan lalu yang mendorong pemulihan indeks .S&P 500. Hingga Jumat, indeks tersebut hampir menutup seluruh penurunan sejak AS dan Israel memulai serangan militer pada akhir Februari.
Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata dua pekan yang awalnya disambut positif oleh investor, ditandai dengan aksi jual minyak dan kembalinya dana ke aset berisiko seperti saham.
Namun, kekhawatiran atas rapuhnya kesepakatan itu kini memicu pembalikan posisi di pasar.
Analis senior City Index, Fiona Cincotta, mengatakan optimisme menjelang perundingan kini sepenuhnya memudar.
“Pasar kembali ke pola klasik: dolar sebagai safe haven, harga minyak melonjak, dan aset lain ditekan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pasar masih kesulitan menentukan harga yang tepat karena tingginya ketidakpastian.
Mata uang berisiko seperti dolar Australia dan poundsterling turut tertekan, masing-masing turun 1,1% dan 0,5%.
Ekspektasi kenaikan inflasi juga mendorong pasar memperkirakan bank sentral seperti European Central Bank dan Bank of England akan cenderung menaikkan suku bunga tahun ini, berbanding terbalik dengan ekspektasi sebelum perang.
Saham global yang sempat mendekati level tertinggi sejak awal Maret masih berada sekitar 2% di bawah posisi sebelum konflik dimulai.
Sementara itu, emas kehilangan sekitar 10% nilainya sejak akhir Februari, karena investor kini lebih memilih dolar sebagai aset lindung nilai.
Analis MST Marquee, Saul Kavonic, menyebut pasar pada dasarnya kembali ke kondisi sebelum gencatan senjata, dengan tambahan risiko blokade AS terhadap aliran minyak Iran melalui Selat Hormuz.
“Pertanyaan utama sekarang adalah apakah AS akan melanjutkan serangan ke Iran, yang bisa meningkatkan risiko serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan dan berdampak lebih lama dari durasi perang,” katanya.
Trump juga mengakui bahwa harga minyak dan bensin kemungkinan tetap tinggi hingga pemilu paruh waktu November, sebuah pengakuan jarang terkait dampak politik dari konflik tersebut. (DK)