Belajar dari sejarah, IPO SpaceX berpotensi jadi kekecewaan?
Senin, 13 April 2026

JAKARTA - Aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) global menunjukkan peningkatan pada 2026, didorong oleh minat tinggi terhadap sektor teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).
Sejumlah perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic dilaporkan tengah menjajaki IPO. Namun, perhatian utama pasar tertuju pada SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk.
SpaceX disebut telah mengajukan rencana IPO secara rahasia pada awal April, dengan target valuasi sekitar US$ 1,75 triliun dan potensi penghimpunan dana hingga US$75 miliar, menjadikannya kandidat IPO terbesar sepanjang sejarah pasar modal.
Didorong prospek industri antariksa dan AI, optimisme investor terhadap SpaceX didukung oleh proyeksi pertumbuhan industri yang signifikan.
Ekonomi luar angkasa diperkirakan mencapai US$1 triliun pada 2034, sementara sektor AI berpotensi menambah hingga US$ 5,7 triliun terhadap ekonomi global pada 2030.
Kombinasi dua sektor tersebut menempatkan SpaceX sebagai salah satu perusahaan dengan prospek pertumbuhan jangka panjang yang menarik.
*** Sejarah IPO Besar Jadi Peringatan
Meski prospeknya menjanjikan, data historis menunjukkan IPO berukuran besar kerap mencatat kinerja yang kurang solid dalam jangka pendek.
Beberapa IPO terbesar dalam beberapa dekade terakhir mengalami penurunan harga saham dalam enam bulan setelah pencatatan, antara lain:
Hanya Visa yang mencatat kinerja positif dalam periode yang sama.
Fenomena ini mencerminkan tingginya ekspektasi pasar saat IPO yang tidak selalu diikuti oleh realisasi kinerja.
*** Valuasi Premium dan Janji yang Tak Terpenuhi
Seperti dikutip finance.yahoo.com, Jumat (10/04), selain sejarah yang memberi peringatan bagi calon investor, valuasi SpaceX memiliki rasio harga terhadap penjualan (price-to-sales ratio) di atas 60, terlihat nyaris tidak dapat dibenarkan.
Valuasi tersebut turut dipengaruhi oleh reputasi Elon Musk dalam membangun perusahaan berbasis teknologi tinggi, seperti Tesla.
Namun, sejumlah target ambisius yang belum sepenuhnya terealisasi di Tesla menjadi pengingat bahwa ekspektasi tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan realisasi.
Seperti Tesla, valuasi SpaceX mendapat “efek Musk.” CEO Elon Musk dikenal dengan investasi agresif di pasar berteknologi tinggi dengan potensi nilai sangat besar.
Setelah SpaceX melantai di bursa, ia kemungkinan akan memimpin dua perusahaan bernilai triliunan dolar.
Namun, ada hal lain yang juga dibawa Musk: aliran janji yang tidak selalu terpenuhi.
Di Tesla, ia telah menjanjikan kemampuan full self-driving Level 5 selama lebih dari satu dekade, tetapi belum terwujud. Ia juga pernah menyatakan bahwa perusahaannya akan memiliki 1 juta robotaxi di jalan umum pada akhir 2020.
Banyak dari janji-janji Musk sudah tercermin dalam valuasi perusahaan-perusahaannya. Namun, visi tersebut sering kali tidak terealisasi.
SpaceX, seperti Tesla, dinilai seolah-olah sempurna di industri (luar angkasa dan AI) yang pada kenyataannya jauh dari sempurna atau dapat diprediksi.
*** Potensi Besar, Risiko Tetap Tinggi
IPO SpaceX menawarkan kombinasi antara potensi pertumbuhan tinggi dan risiko valuasi.
Di satu sisi, ekspansi industri antariksa dan AI membuka peluang jangka panjang yang besar. Di sisi lain, pengalaman historis IPO besar menunjukkan potensi volatilitas dan tekanan harga dalam jangka pendek.
Dengan demikian, investor perlu mencermati keseimbangan antara prospek pertumbuhan dan risiko valuasi sebelum mengambil keputusan investasi. (GA)