Irak pilih Nizar Amidi sebagai Presiden, siapa dia?
Senin, 13 April 2026

JAKARTA - Parlemen Irak memilih Nizar Amidi sebagai presiden pada Sabtu, setelah kebuntuan politik selama lima bulan pasca pemilu yang tidak menghasilkan mayoritas jelas.
Dikutip cnbc, pemilihan berlangsung di tengah dampak konflik AS-Israel dengan Iran. Irak berada di tengah ketegangan tersebut, ketika milisi yang didukung Iran menyerang pangkalan dan fasilitas diplomatik AS serta infrastruktur energi. Di sisi lain, AS dan Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan milisi dan menewaskan sejumlah personel militer Irak.
Perang dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran juga menekan ekspor minyak Irak, yang menjadi tulang punggung ekonomi negara itu.
Amidi merupakan pejabat dari biro politik Patriotic Union of Kurdistan (PUK). Ia mengalahkan sejumlah kandidat, termasuk Menteri Luar Negeri Irak saat ini, Fuad Hussein, yang didukung Kurdistan Democratic Party (KDP).
Sesuai konvensi politik, jabatan presiden Irak dipegang oleh tokoh Kurdi, sementara perdana menteri berasal dari kelompok Syiah dan ketua parlemen dari Sunni.
Pemungutan suara berlangsung lebih dari dua bulan melewati tenggat konstitusi, yang mengharuskan pemilihan presiden dilakukan dalam 30 hari setelah sidang pertama parlemen baru.
Pada putaran pertama, tidak ada kandidat yang meraih mayoritas dua pertiga. Amidi memimpin dengan 208 suara, sementara pesaing terdekatnya, Muthanna Amin Nader dari Kurdistan Islamic Union, memperoleh 17 suara. Pemungutan dilanjutkan ke putaran kedua, di mana pemenang ditentukan berdasarkan suara terbanyak. Amidi meraih 227 suara pada putaran kedua, sedangkan Nader memperoleh 15 suara.
Berdasarkan konstitusi Irak, presiden memiliki waktu 15 hari untuk menunjuk kandidat dari blok parlemen terbesar guna membentuk pemerintahan dan menjabat sebagai perdana menteri.
Blok terbesar, Shiite Coordination Framework yang berisi partai-partai bersekutu dengan Iran, sebelumnya mengumumkan akan mencalonkan mantan perdana menteri Nouri al-Maliki. Namun, blok tersebut masih akan menentukan apakah tetap mengusung al-Maliki atau memilih kandidat lain.
Perdana Menteri sementara Mohammed Shia al-Sudani sebelumnya menjadi pesaing utama al-Maliki, sebelum mengundurkan diri dari pencalonan.(DH)