INET caplok 60% kontraktor submarine cable di harga premium
Senin, 13 April 2026

JAKARTA – PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) melaporkan rencana akuisisi PT Sarana Global Indonesia (SGI) melalui penyertaan modal 60% saham SGI – atau 180 ribu lembar dengan harga Rp1,56 juta per lembar saham.
Dengan demikian, nilai transaksi ditaksir mencapai Rp280,4 miliar. Nilai tersebut setara dengan 36,9% ekuitas Perseroan per Desember 2025 sebesar Rp760,4 miliar.
Namun, berdasarkan laporan penilai independen, nilai pasar saham SGI hanya berkisar Rp1,46 juta per lembar. Hal ini berarti INET membayar 6,7% lebih tinggi untuk penyertaan modal ini.
Di sisi lain, SGI memiliki aset yang dapat membantu INET untuk melancarkan ekspansi jaringan backbone miliknya.
Didirikan pada April 2000, SGI bergerak di bidang usaha kontraktor telekomunikasi, terutama penggelaran kabel fibre optic bawah laut.
Dalam operasionalnya, SGI didukung oleh dua unit kapal yang dimiliki anak usahanya, yaitu cable ship Nostag 10 milik PT Nostag Nusantara Mardika (NNM) dan cable ship Pacific Guardian milik PT Jala Nusantara Mardika (JNM).
Menurut laporan penilai independen, dua unit cable ship tersebut, serta tiga kendaraan milik NNM, mencatatkan total nilai aset sebesar Rp246,2 miliar.
“Kepemilikan dua kapal khusus penanaman kabel memberikan keunggulan operasional yang signifikan, memungkinkan percepatan deployment jaringan, efisiensi biaya proyek, serta pengendalian kualitas dan timeline secara lebih optimal,” ujar manajemen INET dalam keterangan resmi, Senin (13/4).
Hal ini sejalan dengan fokus INET untuk mengembangkan infrastruktur IP transit berupa kabel bawah laut.
Rencana akuisisi entitas baru ini masih menunggu restu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 19 Mei 2026 mendatang.
Dalam RUPS tersebut, INET juga akan meminta persetujuan untuk menambah lini bisnis baru di bidang Perdagangan Besar Peralatan Telekomunikasi (KBLI 46523).
Menurut manajemen dalam keterangan resminya, INET diharapkan dapat memperluas cakupan layanan – tidak hanya sebagai penyedia infrastruktur, namun juga menjadi distributor perangkat solusi telekomunikasi.
“Penambahan KBLI ini mendukung fleksibilitas bisnis untuk melayani segmen pelanggan yang lebih luas, termasuk ISP lain, kontraktor jaringan, dan korporasi yang membutuhkan solusi jaringan end-to-end; sehingga memperkuat posisi pasar perusahaan dalam ekosistem telekomunikasi nasional,” ujar manajemen lebih lanjut.
Berdasarkan laporan penilai independen, INET diproyeksi dapat mencatatkan pendapatan tambahan dari penambahan lini usaha tersebut hingga Rp4,7 miliar pada tahun 2026, bahkan bertumbuh menjadi Rp9,2 miliar pada 2027.
Seiring dengan kabar ekspansi dan akuisisi ini, saham INET terpantau melesat hingga 6,34% ke level Rp302 per lembar per pukul 13.41 WIB, Senin (13/4). (ZH)