Tanker-tanker minyak putar haluan jauhi Selat Hormuz
Selasa, 14 April 2026

JAKARTA - Kapal tanker minyak mulai menghindari Selat Hormuz menjelang rencana blokade Amerika Serikat yang dijadwalkan berlaku pada Senin, setelah perundingan damai AS dan Iran gagal mencapai kesepakatan.
Dikutip Reuters, Senin (13/4) data pelayaran menunjukkan sejumlah kapal memilih menunda atau membatalkan lintasan di jalur tersebut. Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan memulai blokade di Selat Hormuz.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan blokade akan mulai diterapkan pukul 10.00 waktu Washington. Kebijakan ini menyasar seluruh lalu lintas laut yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran.
“Peraturan itu akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” kata CENTCOM dalam pernyataan di X.
Namun, AS menegaskan tidak akan mengganggu kebebasan navigasi kapal yang melintas ke pelabuhan non-Iran. Di sisi lain, Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal militer yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata dan akan ditindak tegas.
Sejumlah kapal tetap melintas. Tanker berbendera Pakistan, Shalamar dan Khairpur, memasuki Teluk pada Minggu. Shalamar dijadwalkan menuju Uni Emirat Arab untuk memuat minyak mentah Das, sementara Khairpur menuju Kuwait untuk memuat produk olahan.
Kapal tanker besar lainnya juga tercatat bergerak di kawasan tersebut. VLCC berbendera Liberia, Mombasa B, melintasi selat dan kini berada di Teluk tanpa muatan. Sementara VLCC berbendera Malta, Agios Fanourios I, membatalkan rencana masuk ke Teluk dan berbalik arah, kini berlabuh di dekat Teluk Oman.
Meski ketegangan meningkat, data pelayaran menunjukkan tiga supertanker bermuatan penuh tetap melintasi Selat Hormuz pada Sabtu. Kapal-kapal tersebut menjadi yang pertama keluar dari Teluk sejak kesepakatan gencatan senjata pekan lalu.(DH)