Blokade Iran, Amerika picu seret China masuk konflik?
Selasa, 14 April 2026

NEW YORK - Kebijakan blokade yang diancamkan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran dinilai berisiko memicu konflik yang lebih luas, bahkan hingga menyeret kekuatan besar seperti China.Dalam konflik yang sudah memicu ancaman serius dan balasan dari Iran, langkah Washington menutup akses pelayaran di Selat Hormuz, bersamaan dengan pembatasan yang dilakukan Teheran, dinilai dapat melumpuhkan perdagangan global dan mengguncang ekonomi dunia.Seperti dikutip Independent, lonjakan harga minyak menjadi salah satu dampak langsung, dengan harga minyak fisik dilaporkan sempat menyentuh US$148 per barel.Konflik ini juga memicu kenaikan harga gas, pupuk, helium, dan berbagai produk petrokimia lainnya, sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi global.Ketegangan ini turut menimbulkan tuduhan pelanggaran hukum internasional.Ancaman AS untuk menghentikan kapal-kapal internasional dianggap berpotensi melanggar hukum laut internasional, mengingat sekitar 20% pasokan energi dunia melintasi Selat Hormuz.Dampaknya sangat besar bagi Asia. China mengimpor sekitar 31% minyak dari jalur tersebut, sementara India sekitar 14%. Secara keseluruhan, sekitar 86% ekspor minyak dari kawasan Teluk melalui rute ini menuju Asia.Karena itu, Beijing menyerukan penahanan diri dari kedua pihak.Blokade AS juga dinilai sebagai ancaman strategis bagi China, yang membeli sekitar 80% ekspor minyak Iran.Tindakan militer terhadap kapal pengangkut minyak ke China berpotensi dianggap sebagai tindakan perang oleh Beijing.Meski demikian, China diperkirakan tidak akan bereaksi secara agresif.Presiden Xi Jinping kemungkinan akan memanfaatkan situasi ini sebagai preseden untuk mengkritik dominasi AS dalam aturan pelayaran global.Di sisi lain, ketegangan ini juga menyoroti konflik lama di Laut China Selatan, di mana AS dan sekutunya kerap menantang klaim wilayah China demi menjaga kebebasan navigasi.Hingga kini, belum ada sekutu utama AS yang menyatakan dukungan terhadap rencana blokade tersebut.Langkah ini muncul setelah perundingan intensif antara AS dan Iran, yang dipimpin Wakil Presiden AS JD Vance di Pakistan, gagal mencapai kesepakatan terkait program nuklir Iran.Situasi ini menunjukkan bahwa Washington masih mencari jalan keluar dari konflik yang dinilai tidak memberikan hasil jelas, meski sejalan dengan kepentingan sekutu dekatnya di kawasan. (DK)