Ekuitas minus, pemilik Hypermart MPPA gelar rights issue Rp1,2 triliun

Selasa, 14 April 2026

image

JAKARTA – PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA), emiten ritel pengelola Hypermart, akan menggelar penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue pada Juni 2026 mendatang untuk ekspansi jaringan.

Dalam aksi korporasi ini, MPPA akan menerbitkan sekitar 24 miliar lembar saham baru – atau setara dengan 64,9% modal ditempatkan dan disetor setelah rights issue.

Perseroan telah menetapkan rasio 114:211, yang berarti tiap 114 lembar, pemegang saham berhak mendapatkan 211 HMETD yang dapat digunakan untuk membeli satu lembar saham baru.

Dengan harga pelaksanaan yang ditetapkan sebesar Rp50 per lembar, makan nilai transaksi rights issue ini akan mencapai Rp1,2 triliun.

Dalam prospektusnya, MPPA menyebutkan bahwa 65,35% dana rights issue – atau total Rp 780 miliar – akan digunakan untuk mengakuisisi 6 bidang lahan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Banten, dari pihak afiliasi.

Sementara itu, sisanya akan dialokasikan untuk belanja operasional atau opex.

Sebagai catatan, tiga bidang lahan di Surabaya, Gresik, dan Bogor yang sudah dibeli MPPA akan digunakan untuk lokasi ekspansi jaringan ritel Perseroan.

“Termasuk namun tidak terbatas pada format bisnis Perseroan seperti Hypermart, Hyfresh, Foodmart Fresh dan Foodmart Primo, Boston, dan FMX,” imbuh manajemen.

Ekspansi ini juga mencakup brand milik dan/atau yang dikelola oleh Perusahaan dan Anak Perseroan, beserta tenant pelengkap serta integrasi layanan Omni-channel.

Sementara itu, dua bidang lahan lain di Yogyakarta dan Bogor akan dikembangkan menjadi heritage retail.

“Serta dimanfaatkan sebagai showcase konsep Bread & Butter dan Mother Store untuk pengembangan serta pengujian inovasi format ritel Perseroan,” tambah manajemen MPPA.

Sementara itu, satu bidang lahan di Banten akan digunakan MPPA untuk mengembangkan solusi rantai pasok jangka panjang (long-term supply chain solutions) bagi Perseroan demi efisiensi jaringan distribusinya.

Sebagai bagian dari Grup Lippo, pengendali MPPA, PT Multipolar Tbk (MLPL), menyatakan siap melaksanakan semua HMETD yang menjadi haknya, sekaligus bertindak sebagai pembeli siaga (standby buyer).

Sebagai catatan, MPPA mencatatkan defisiensi modal per Desember 2025, dengan total ekuitas di level minus Rp2,2 miliar.

Berdasarkan pantauan IDNFinancials.com, karena ekuitas berada di posisi negatif, pihak BEI memasukkan MPPA ke dalam Papan Pemantauan Khusus dengan skema jual beli Full Call Auction (FCA) sejak 19 Februari 2026.

Namun, seiring rilisnya prospektus rights issue ini, harga saham MPPA tampak naik 6,38% ke level Rp50 per lembar, meski sejak awal tahun, harga saham emiten ini telah anjlok 18,03%. (ZH)