Eropa borong LNG Yamal jelang larangan gas Rusia
Selasa, 14 April 2026

JAKARTA - Eropa meningkatkan pembelian gas alam cair (LNG) dari proyek Yamal Rusia menjelang rencana pelarangan impor energi dari Moskow. Ketergantungan kawasan ini justru mencapai rekor baru pada awal 2026.
Dikutip maritime-executive, analisis lembaga Urgewald berdasarkan data Kpler menunjukkan Uni Eropa menyerap hampir seluruh ekspor LNG Yamal pada kuartal pertama tahun 2026. Dari total 71 kargo yang dikirim secara global, 69 kargo atau sekitar 97% masuk ke pasar Eropa, setara 5,07 juta ton.
Sebaliknya, China hanya menerima dua kargo pada Januari dan tidak ada pengiriman pada Februari dan Maret. Untuk pembelian tersebut, Uni Eropa membayar sekitar US$3,33 miliar kepada Rusia. Lonjakan harga gas global, dipicu krisis Timur Tengah dan blokade Selat Hormuz, turut meningkatkan nilai transaksi.
Harga gas acuan Eropa (TTF) melonjak 51% pada Maret dibandingkan Januari - Februari. Rata-rata harga sebelumnya berada di kisaran US$41 per MWh, lalu naik menjadi US$61 per MWh. Dalam empat tahun terakhir, Eropa telah menggelontorkan lebih dari US$230 miliar untuk impor minyak dan gas Rusia. Kondisi ini memperumit target Uni Eropa untuk menghentikan seluruh ketergantungan energi dari Rusia.
Urgewald menilai Eropa bukan hanya pembeli utama, tetapi juga tulang punggung logistik proyek Yamal LNG. Sejumlah kontrak bahkan masih berlaku hingga 2040.
Proyek Yamal bergantung pada armada terbatas kapal tanker es kelas Arc7 yang mampu beroperasi sepanjang tahun. Tanpa dukungan pelabuhan Eropa, distribusi LNG dari kawasan Arktik tersebut akan terhambat.
Upaya Rusia mengalihkan pasar ke Asia masih menghadapi kendala. Keterbatasan armada membuat ekspansi membutuhkan waktu bertahun-tahun. Produsen gas Rusia, Novatek, baru membentuk anak usaha galangan kapal untuk memperkuat kapasitas transportasi, namun dampaknya belum akan terasa dalam waktu dekat. (DH)