World Bank: Dunia hadapi krisis pengangguran meski perang usai
Selasa, 14 April 2026

WASHINGTON - Meski perang di Timur Tengah menjadi fokus utama pertemuan pejabat keuangan global pekan ini di Washington, Banga menyoroti tantangan yang lebih besar dalam jangka panjang, yakni kekurangan lapangan kerja bagi sekitar 1,2 miliar penduduk usia kerja di negara berkembang dalam 10–15 tahun ke depan.
Seperti dikutip Reuters, dengan tren saat ini, negara-negara tersebut diperkirakan hanya mampu menciptakan sekitar 400 juta pekerjaan, meninggalkan kekurangan hingga 800 juta lapangan kerja.
Banga mengakui bahwa mengarahkan perhatian pada isu jangka panjang bukan hal mudah, di tengah berbagai guncangan ekonomi global sejak pandemi COVID-19, termasuk konflik terbaru di Timur Tengah.
Namun, ia menegaskan pentingnya tetap fokus pada tantangan struktural seperti penciptaan lapangan kerja, akses listrik, dan ketersediaan air bersih.
“Kita harus mampu menangani tantangan jangka pendek sekaligus jangka panjang,” ujarnya.
Ribuan pejabat keuangan dunia berkumpul dalam pertemuan musim semi International Monetary Fund dan World Bank, di tengah bayang-bayang konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global serta memicu inflasi.
Dampak ekonomi konflik ini turut bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata dua pekan yang diumumkan oleh Donald Trump.
Meski meredakan sebagian serangan, ketegangan masih berlanjut, termasuk gangguan pasokan energi global akibat situasi di Selat Hormuz serta konflik paralel antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon.
Komite Pembangunan World Bank juga menyiapkan langkah bersama negara berkembang untuk memperbaiki kebijakan dan regulasi yang selama ini menghambat investasi dan penciptaan lapangan kerja.
Fokus pembahasan mencakup transparansi perizinan, pemberantasan korupsi, reformasi hukum tenaga kerja dan lahan, hingga perbaikan sistem perdagangan dan logistik.
Banga optimistis solusi tetap bisa ditemukan untuk menciptakan pekerjaan yang layak bagi generasi muda sekaligus membuka peluang bagi sektor swasta.
Ia memperingatkan bahwa kegagalan mengatasi masalah ini dapat memicu migrasi ilegal dan ketidakstabilan global. Data United Nations menunjukkan lebih dari 117 juta orang telah mengungsi di seluruh dunia hingga 2025.
Selain ketenagakerjaan, isu akses air bersih juga menjadi prioritas.
World Bank bersama lembaga pembangunan lainnya menargetkan peningkatan akses air bersih bagi satu miliar orang, melengkapi inisiatif penyediaan listrik untuk 300 juta rumah tangga di Afrika serta peningkatan layanan kesehatan. (DK)