Prabowo raih kesepakatan energi dan industri dari Putin

Selasa, 14 April 2026

image

JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, Senin (13/4), untuk memperkuat kerja sama strategis di tengah dinamika geopolitik global.

Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menekankan intensitas hubungan bilateral yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Ia menyebut komunikasi antara Indonesia dan Rusia berjalan produktif, termasuk melalui pertemuan dengan pejabat dan pelaku usaha Rusia.

Prabowo juga mengapresiasi dukungan Rusia terhadap kepentingan strategis Indonesia, termasuk dalam proses aksesi ke kelompok ekonomi BRICS. Menurutnya, dukungan tersebut memperkuat posisi Indonesia di tingkat global.

Kedua negara mencatat kemajuan signifikan dari sejumlah kesepakatan sebelumnya. Prabowo menegaskan pemerintah akan mempercepat implementasi kerja sama yang masih tertunda.

Selain itu, Indonesia dan Rusia meningkatkan konsultasi strategis untuk merespons perubahan geopolitik global. Pemerintah memandang Rusia sebagai mitra penting dalam menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian dunia.

Sekretaris Kabinet ,Teddy Indra Wijaya, menyatakan pertemuan berlangsung sekitar lima jam, terdiri dari sesi bilateral dan pertemuan empat mata. Kedua negara menyepakati kerja sama jangka panjang di sektor energi dan sumber daya mineral, termasuk ketahanan energi migas dan hilirisasi.

“Kerja sama juga diperluas ke bidang pendidikan, riset teknologi, pertanian, serta investasi, khususnya pembangunan industri di Indonesia,” tulis Seskab dalam keterangan resmi  Mensesneg RI. Pemerintah menilai Rusia sebagai mitra strategis global, mengingat posisinya sebagai pemegang hak veto di PBB dan anggota pendiri BRICS.

Dalam satu tahun terakhir, Prabowo dan Putin telah bertemu lima kali, menandai hubungan bilateral yang semakin intens. Secara ekonomi, berdasarkan data tradingeconomics, hubungan Indonesia – Rusia, pada 2025, ekspor Indonesia ke Rusia mencapai sekitar US$1,88 miliar, sementara impor dari Rusia sebesar US$2,97 miliar. Indonesia mengimpor energi dan bahan baku strategis dari Rusia, termasuk bahan bakar mineral, pupuk, dan gandum. Sebaliknya, Indonesia mengekspor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), karet, serta produk manufaktur.(DH)