Isu Meta beli chip TPU Google tekan saham Nvidia

Jumat, 28 November 2025

image

JAKARTA - Dominasi absolut Nvidia di pasar infrastruktur kecerdasan buatan (AI) global menghadapi ujian terberatnya, memicu guncangan pada valuasi saham perusahaan.

Saham raksasa pembuat chip tersebut tertekan pada perdagangan Selasa setelah muncul laporan bahwa dua dari segelintir pelanggan terbesarnya, Google (Alphabet) dan Meta Platforms, tengah menjajaki kemitraan strategis bernilai miliaran dolar AS yang berpotensi mematahkan monopoli unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia di pusat data modern.

Seperti dilansir dari finance.yahoo.com (26/11), Meta Platforms dilaporkan sedang dalam tahap negosiasi intensif untuk membeli chip AI khusus buatan Google, yakni Tensor Processing Units (TPU), guna memperkuat pusat data mereka mulai tahun 2027.

Pembicaraan ini tidak terbatas pada pembelian perangkat keras semata, tetapi juga mencakup opsi bagi Meta untuk menyewa kapasitas chip tersebut melalui layanan Google Cloud lebih awal pada tahun depan. Jika kesepakatan ini terwujud, hal ini akan menandai pergeseran fundamental dalam model bisnis Google.

Selama ini, raksasa teknologi tersebut menggunakan TPU secara eksklusif untuk kebutuhan internal atau menyewakan aksesnya lewat cloud, dan tidak pernah menjual fisik chip tersebut kepada pihak eksternal.

Langkah agresif Google untuk mulai mengomersialkan TPU kepada klien eksternal dinilai oleh para analis sebagai ancaman eksistensial bagi margin keuntungan Nvidia. Eksekutif Google Cloud dilaporkan menargetkan strategi ini dapat merebut hingga 10 persen dari total pendapatan tahunan Nvidia.

Pasar bereaksi negatif terhadap prospek ini karena Nvidia selama ini menikmati kekuatan penetapan harga (pricing power) yang luar biasa akibat ketiadaan alternatif yang sepadan. Jika raksasa teknologi seperti Meta, yang berencana menggelontorkan puluhan miliar dolar untuk belanja modal, beralih ke arsitektur alternatif seperti TPU, hal ini dapat menggerus pangsa pasar Nvidia secara signifikan pada siklus belanja infrastruktur AI berikutnya.

Nvidia segera merespons spekulasi pasar ini dengan pernyataan defensif yang tegas. Melalui unggahan di media sosial, perusahaan menekankan bahwa teknologi GPU mereka masih "satu generasi di depan" dibandingkan kompetitor manapun.

Nvidia menyoroti keunggulan fleksibilitas arsitektur GPU Blackwell terbaru mereka yang mampu menangani berbagai jenis model AI di mana saja, berbeda dengan desain Application-Specific Integrated Circuit (ASIC) seperti TPU yang fungsinya lebih spesifik dan kaku.

CEO Nvidia Jensen Huang sebelumnya juga menegaskan bahwa permintaan terhadap produk mereka "di luar grafik" (off the charts), dengan chip Blackwell yang sudah terjual habis untuk beberapa kuartal ke depan.

Namun, laporan ini mempertegas tren "frenemy" (teman tapi musuh) yang kian nyata di Silicon Valley. Nvidia kini berada dalam posisi paradoks di mana pelanggan utamanya termasuk Amazon, Microsoft, dan Google secara agresif mengembangkan chip internal untuk mengurangi ketergantungan pada satu pemasok tunggal.

Selain menekan saham Nvidia, kabar ini juga menyeret turun saham pesaing lainnya, Advanced Micro Devices (AMD), yang turun lebih dari 4 persen, sementara saham Alphabet justru bergerak positif.

Analis memperingatkan bahwa meskipun fundamental Nvidia saat ini sangat kuat dengan pendapatan kuartalan menembus US$57 miliar, valuasi premium sahamnya sangat sensitif terhadap setiap sinyal yang menunjukkan bahwa parit ekonomi (economic moat) perusahaan mulai menyempit. (SF)