Perang Iran tekan impor minyak China turun 2,8%
Rabu, 15 April 2026

TIONGKOK - Impor minyak mentah China pada Maret turun 2,8% dibandingkan tahun sebelumnya, terutama karena tingginya basis pada periode yang sama tahun lalu.
Data resmi yang dirilis Selasa juga menunjukkan bahwa konflik di Iran mulai menekan operasional kilang, sementara gangguan pasokan dari Timur Tengah diperkirakan akan memengaruhi impor pada April.
Seperti dikutip Reuters, menurut Administrasi Umum Bea Cukai, total impor Maret mencapai 49,98 juta metrik ton, setara sekitar 11,77 juta barel per hari (bpd).
Secara khusus, impor melalui jalur laut relatif stabil di kisaran 10,5 juta bpd dibandingkan tahun lalu, dengan persediaan meningkat sekitar 34 juta barel.
Analis Vortexa, Emma Li, menjelaskan bahwa pengiriman dari Timur Tengah yang tiba pada Maret sebagian besar dimuat pada Januari dan Februari, sehingga belum terdampak gangguan di Selat Hormuz.
Dari sisi pengolahan, tingkat utilisasi kilang di China tercatat 68,79% pada Maret, turun 0,9 poin persentase secara tahunan dan merosot 4,47 poin dibandingkan Februari, menurut Oilchem.
Penurunan ini terjadi baik di kilang besar maupun independen, dipicu oleh kekhawatiran pasokan minyak mentah dan faktor operasional lainnya.
Ke depan, pasokan diperkirakan semakin ketat. Wakil Presiden Rystad Energy, Ye Lin, memperkirakan impor April bisa sekitar 2 juta bpd di bawah kebutuhan rata-rata.
Untuk menjaga pasokan produk minyak, China kemungkinan harus mengandalkan stok, meskipun operasi kilang diproyeksikan turun sekitar 1 juta bpd akibat margin yang lemah.
Sementara itu, ekspor produk minyak olahan, termasuk bensin, diesel, bahan bakar jet, dan bahan bakar kapal, turun 12,2% menjadi 4,6 juta ton pada Maret.
Hal ini dipengaruhi kebijakan larangan ekspor yang diberlakukan pemerintah, yang menghentikan pengiriman yang belum lolos bea cukai hingga 11 Maret.
Kebijakan tersebut diperkirakan berlanjut hingga April, dengan kemungkinan pengecualian terbatas untuk negara tertentu.
Di dalam negeri, produksi bensin dan diesel meningkat setelah kuota ekspor dipangkas, namun konsumsi tetap relatif lemah sehingga pasokan melimpah dan stok meningkat.
Untuk gas, impor, baik melalui pipa maupun LNG, turun 10,7% menjadi 8,18 juta ton, level terendah sejak Oktober 2022.
Meski demikian, importir memanfaatkan lonjakan harga spot dengan memuat ulang 8–10 kargo LNG, jumlah bulanan tertinggi yang pernah tercatat.
Data Kpler menunjukkan impor LNG China pada Maret hanya 3,68 juta ton, terendah sejak April 2018. (DK)