Bank sentral dunia jual emas, mengapa?
Rabu, 15 April 2026

WASHINGTON - Setelah bertahun-tahun menjadi pembeli besar, sejumlah bank sentral kini mulai menjual emas.Koreksi harga emas sekitar 10% dari puncaknya di akhir Januari mencerminkan perubahan langka di pasar, dipicu tekanan perang Iran dan kebutuhan likuiditas.Seperti dikutip Cnbc, harga emas spot yang masih berada di kisaran tinggi justru dimanfaatkan sebagai “tabungan darurat”.Sejumlah bank sentral melepas cadangan emas untuk membiayai lonjakan biaya energi dan pertahanan, sekaligus menopang mata uang yang tertekan.Faktor utama pendorong aksi jual ini adalah kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan volatilitas nilai tukar.Negara-negara berkembang menjadi yang paling terdampak, karena biaya impor meningkat dan tekanan terhadap mata uang makin besar.Beberapa contoh mulai terlihat. Turki tercatat menjual emas dalam jumlah besar demi menstabilkan lira.Rusia dan Ghana juga mengurangi cadangan untuk menjaga likuiditas devisa, sementara Polandia sempat mempertimbangkan langkah serupa untuk kebutuhan pertahanan.Perubahan ini signifikan karena sebelumnya bank sentral menjadi penopang utama reli emas global.Sejak 2022 hingga 2024, pembelian emas bahkan menembus lebih dari 1.000 ton per tahun. Namun pada 2025, pembelian turun menjadi 863 ton di tengah volatilitas harga yang tinggi.Selain aksi jual bank sentral, keluarnya investor ritel dan naiknya imbal hasil obligasi AS turut menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.Meski demikian, pelaku pasar menilai langkah ini bersifat taktis, bukan perubahan jangka panjang.Emas yang sebelumnya dibeli sebagai lindung nilai krisis kini digunakan sebagai sumber dana ketika krisis benar-benar terjadi. (DK)