Kuartal 1 emas anjlok, akibat tekanan likuiditas?
Rabu, 15 April 2026

DUBAI - Penurunan tajam harga emas pada Maret mengejutkan investor.Di saat ketegangan geopolitik dan risiko inflasi biasanya menopang harga, pelemahan kali ini justru dipicu oleh aksi pelepasan posisi leverage secara besar-besaran, bukan faktor fundamental.Menurut laporan Gold Market Commentary dari World Gold Council, harga emas anjlok sekitar 12% sepanjang Maret ke level US$4.608 per ons, menjadi kinerja terburuk sejak 2013.Seperti dikutip Gulfnews, penurunan ini terjadi di hampir semua mata uang, meskipun secara tahun berjalan emas masih mencatat kenaikan.Skala dan cepatnya penurunan menunjukkan bahwa pasar didorong oleh kebutuhan likuiditas.Dalam kondisi tertekan, investor cenderung menjual aset, termasuk emas, untuk mendapatkan dana tunai.Selama tiga minggu pertama Maret, tekanan jual meningkat seiring investor menarik dana dari berbagai instrumen.ETF emas global mencatat arus keluar hingga US$12 miliar, terutama dari Amerika Utara.Posisi beli di pasar berjangka seperti COMEX juga menurun, mencerminkan pengurangan eksposur oleh investor institusi maupun ritel.Aksi jual makin cepat setelah level teknikal penting ditembus.Pelaku seperti Commodity Trading Advisors yang sebelumnya memegang posisi beli besar ikut melepas asetnya.Tekanan dari pasar saham yang melemah dan kebutuhan margin juga memicu deleveraging lintas aset, memaksa investor menjual emas.Kenaikan imbal hasil obligasi AS turut memperburuk situasi, terutama pada tenor pendek. Penguatan dolar AS memang terjadi, namun pengaruhnya dinilai lebih kecil dibanding tekanan likuiditas dan faktor teknikal.Spekulasi terkait aktivitas bank sentral juga sempat menekan pasar.
Türkiye, misalnya, menggunakan sekitar 50 ton emas sebagai jaminan melalui skema swap, langkah yang lebih bersifat manajemen likuiditas daripada perubahan strategi.Memasuki April, tekanan mulai mereda. Arus dana ETF kembali positif di berbagai wilayah, sementara penguatan dolar mulai tertahan.Pasar opsi menunjukkan sikap hati-hati dalam jangka pendek, tetapi prospek jangka menengah mulai membaik.Selain itu, mulai terlihat minat beli baru dari manajer kekayaan dan investor ritel pada level harga yang lebih stabil.Meski begitu, risiko masih ada. Faktor utama yang perlu diperhatikan tetap kondisi likuiditas global.Jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, tekanan bisa kembali muncul, memicu kenaikan yield dan aksi jual lanjutan di berbagai aset, termasuk emas.Secara keseluruhan, fundamental emas masih kuat, namun pergerakan jangka pendek akan sangat ditentukan oleh dinamika likuiditas di tengah ketidakpastian geopolitik. (DK)