Anhar Sudradjat: Laba MTLA 2025 turun, kuartal I 2026 mulai stabil
Rabu, 15 April 2026
JAKARTA - Emiten properti PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) mengungkapkan kinerja penjualan mengalami perusahaan pada periode 2024 hingga 2025. Namun, memasuki 2026, perseroan melihat kondisi pasar mulai stabil, terutama ditopang oleh segmen menengah.Presiden Direktur MTLA, Anhar Sudradjat, menjelaskan bahwa pada kuartal I 2026, performa penjualan dinilai masih relatif terjaga dan belum menunjukkan penurunan lanjutan.“Dari 2025 ke 2026, khususnya tiga bulan pertama, masih bisa dibilang tidak turun. Masih oke, dan diharapkan tetap terjaga,” ujar Anhar, dalam wawancara eksklusif program "Meet The CEO" di M Gold Tower, Jakarta, Selasa (14/4).
"Meet The CEO" merupakan program wawancara eksklusif IDNFinancials.com, yang berkolaborasi dengan Suara.com.Dalam acara tersebut, Anhar Sudardjat, Presiden Direktur MTLA diwawancarai oleh Pemimpin Redaksi (Pemred) IDNFinancials.com Mohamad Teguh dan Pemred Suara.com Suwarjono.Lebih lanjut, Anhar mengakui bahwa ketidakpastian global seperti konflik geopolitik dan isu energi, termasuk bahan bakar, menjadi faktor yang berpotensi menekan pasar properti ke depan."Namun, Perseroan berharap kondisi tersebut tidak memburuk secara signifikan," katanya.Dari sisi permintaan, MTLA melihat segmen menengah, khususnya menengah ke bawah, masih menjadi pasar paling kuat.Hal ini didorong oleh tingginya kebutuhan rumah pertama (first home buyers), yang dinilai memiliki keberanian lebih tinggi dalam mengambil keputusan pembelian.Anhar menjelaskan bahwa konsumen di segmen ini cenderung lebih disiplin dalam pembayaran selama memiliki pendapatan yang stabil.Selain itu, besarnya backlog kebutuhan hunian di Indonesia juga menjadi faktor pendukung utama permintaan.Sementara itu, untuk segmen harga lebih tinggi, seperti rumah di atas Rp2 miliar, permintaan dinilai tetap ada, terutama di lokasi premium.
Namun, faktor lokasi menjadi penentu utama dalam menentukan daya tarik dan persepsi harga.“Uang itu sebenarnya ada, tapi faktor keberanian dan lokasi sangat menentukan. Di lokasi tertentu, harga Rp2 miliar bisa dianggap murah, tapi di lokasi lain bisa terasa mahal,” jelas Anhar.Dengan kondisi tersebut, Anhar menilai pasar properti nasional masih memiliki potensi, terutama jika didukung stabilitas ekonomi dan keberlanjutan daya beli masyarakat kelas menengah. (DK)