UBS ungkap potensi bullish di pasar komoditas, dari minyak hingga emas
Jumat, 28 November 2025

JAKARTA – Chief Investment Office (CIO) UBS Group AG optimis sejumlah komoditas akan mencatat kenaikan harga signifikan, didukung berbagai sentimen. Mulai dari negosiasi perdamaian antara Rusia-Ukraina hingga faktor supply and demand.
Pertama, CIO UBS memperkirakan harga minyak akan kembali meningkat di tengah tingginya permintaan, serta persediaan yang cenderung stagnan.
“Kami tetap mempertahankan pandangan bahwa harga minyak mentah akan tetap mendapat dukungan dalam beberapa bulan mendatang,” tulis CIO UBS dalam riset terbarunya, dengan menekankan harga akan semakin menaik pada 2026.
CIO UBS mengakui bahwa harga minyak mentah memang cenderung tertinggal, dibandingkan dengan komoditas lain, akibat permintaan yang melambat serta faktor pasokan dari Amerika Serikat (AS) dan OPEC+.
Bank multinasional asal Swiss ini, memperkirakan harga minyak mentah brent akan diperdagangkan pada harga US$67 per barel pada akhir 2026, sekitar 8% lebih tinggi dari harga saat ini.
Kedua, CIO UBS melihat saat ini pasar tembaga dan aluminium berpotensi menghadapi defisit, yang akan mendukung kenaikan harga. Hal ini didukung tren di sejumlah negara yang mulai beralih ke kendaraan listrik dan sumber energi terbarukan.
Transisi menuju energi terbarukan di sejumlah negara dengan ekonomi terbesar, menurut CIO UBS, juga akan mendukung lonjakan permintaan tembaga.
“Begitu juga dengan aluminium, saat ini kami melihat defisit yang lebih lebar dan mungkin hingga tahun depan, saat permintaan dari sektor energi terus berlanjut,” ungkap CIO UBS.
Ketiga, CIO UBS melihat potensi kenaikan harga yang signifikan pada komoditas logam mulia kuning, yaitu emas.
Bank dengan total aset US$1,57 triliun itu mengakui bahwa harga emas telah mengalami penurunan signifikan, sejak mencapai rekor tertingginya pada Oktober.
Namun dengan peluang pemangkasan Fed Rate, peningkatan risiko fiskal, dan perubahan iklim politik di AS, diprediksi jadi penopang harga emas berikutnya.
“Permintaan terhadap emas harusnya meningkat dalam waktu dekat, meskipun komoditas agrikultur menawarkan titik entri yang cukup atraktif,” jelas CIO UBS, dengan tetap mempertahankan harga emas di level US$4.500 per troi ons pada pertengahan 2026. (KR)