Korea Selatan amankan 273 juta barel minyak di luar jalur Selat Hormuz

Kamis, 16 April 2026

image

SEOUL - Korea Selatan telah mengamankan 273 juta barel minyak mentah dari Timur Tengah dan Kazakhstan yang tidak perlu melewati Selat Hormuz, dengan volume yang dinilai cukup untuk menopang ekonomi negara tersebut lebih dari tiga bulan dalam kondisi normal.

Kepala Staf Kepresidenan Kang Hoon-sik mengatakan pada Rabu bahwa volume 273 juta barel tersebut, berdasarkan tingkat konsumsi tahun lalu, cukup untuk menjaga keberlangsungan ekonomi selama lebih dari tiga bulan tanpa memerlukan langkah darurat tambahan.

Seperti dikutip Oilprice, Kang baru saja kembali dari kunjungan selama sepekan ke Oman, Arab Saudi, Qatar, dan Kazakhstan, dalam upaya mengamankan pasokan energi bagi Korea Selatan yang merupakan ekonomi terbesar keempat di Asia dan sangat bergantung pada impor energi.

Selain minyak mentah, Korea Selatan juga berhasil mengamankan 2,1 juta ton nafta, bahan baku penting bagi industri petrokimia. 

Pejabat tersebut menyatakan bahwa seluruh minyak dan nafta itu akan dikirim melalui jalur alternatif yang tidak terdampak blokade di Selat Hormuz.

Industri petrokimia Asia sendiri telah mulai merasakan tekanan akibat gangguan pasokan. Kekurangan nafta dan bahan baku lainnya akibat perang Iran telah memaksa sejumlah perusahaan mengurangi produksi.

Berdasarkan konsumsi tahun lalu, 2,1 juta ton nafta tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi sekitar satu bulan kebutuhan dalam negeri Korea Selatan.

Untuk memastikan stabilitas pasokan jangka panjang, pejabat Korea Selatan juga membahas dengan produsen minyak utama Timur Tengah mengenai kemungkinan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak di luar kawasan Selat Hormuz.

Sebelum konflik pecah, Korea Selatan sebagian besar mengimpor minyak dari Timur Tengah dan termasuk salah satu negara Asia yang paling rentan terhadap gangguan pasokan LNG dari Qatar yang kini terdampak.

Sementara itu, Korea Selatan juga menunda rencana pensiun pembangkit listrik tenaga batu bara di tengah tekanan krisis energi yang dipicu perang di Timur Tengah. (DK)