China pertimbangkan batasi ekspor peralatan surya ke AS
Kamis, 16 April 2026

TIONGKOK - China sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor peralatan manufaktur tenaga surya ke Amerika Serikat, dalam langkah yang berpotensi menjadi pembatasan ekspor baru di sektor teknologi strategis di mana perusahaan-perusahaan China menjadi pemimpin global.
Pejabat di China telah membahas kemungkinan penerapan kebijakan tersebut, namun pembicaraan masih berada pada tahap awal dan belum sampai pada tahap meminta masukan dari para produsen terkait dampaknya, demikian laporan Reuters pada Rabu yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui diskusi tersebut.
Seperti dikutip Oilprice, dalam dua tahun terakhir, industri manufaktur tenaga surya China menghadapi kelebihan kapasitas produksi yang menekan kinerja perusahaan dan menyebabkan kerugian di berbagai lini usaha.
Untuk merespons kondisi tersebut, pemerintah China mulai mengambil langkah pengendalian, termasuk pemangkasan produksi polisilikon sebesar 29,6% serta penurunan output wafer silikon sebesar 6,7% antara Januari hingga Oktober, meskipun produksi sel dan modul surya masih meningkat secara tahunan.
Kini, opsi pembatasan ekspor kembali dipertimbangkan, meski belum ada keputusan final.
Jika diterapkan, kebijakan ini akan memperluas kontrol ekspor China dari sektor tanah jarang ke peralatan manufaktur surya, bidang lain yang juga didominasi oleh teknologi dan rantai pasok China.
Analis menilai langkah ini muncul di tengah upaya perusahaan-perusahaan Amerika Serikat, termasuk Tesla, untuk meningkatkan produksi panel surya domestik dan mengurangi ketergantungan pada impor dari China.
Di sisi lain, peningkatan produksi di AS berpotensi menggerus pasar produsen China.
Jika perusahaan seperti Tesla berhasil memperkuat kapasitas manufaktur surya di dalam negeri, maka permintaan terhadap produk China bisa menurun.
“Keberhasilan Tesla dalam mencapai swasembada tenaga surya bisa menjadi mimpi buruk bagi produsen panel surya China,” kata lembaga riset Trivium China dalam catatan yang dikutip Reuters.
“Beijing tidak akan tinggal diam ketika juara industrinya justru secara tidak sengaja membantu kebijakan industri negara pesaing.”