Harga meroket, China pangkas tajam impor minyak dan gas

Kamis, 16 April 2026

image

BEIJING – China melaporkan penurunan tajam pada volume impor gas alam dan minyak mentahnya sepanjang bulan Maret. Pemangkasan besar-besaran ini merupakan dampak langsung dari kelumpuhan lalu lintas kapal tanker yang tengah terjadi di perairan Timur Tengah.

Di saat yang bersamaan, lonjakan harga energi global turut memaksa Beijing untuk segera mengevaluasi kembali strategi pemenuhan energi mereka dan mulai mengalihkan pandangan dari para pemasok tradisional di Timur Tengah.

Seperti dikutip oilprice.com (14/04/2026), laporan Bloomberg yang mengutip data pabean resmi menunjukkan bahwa impor gas alam China turun sebesar 11 persen pada bulan lalu menjadi 8,183 juta ton. Angka ini membawa total impor gas China sejak awal tahun (year-to-date) berada 4 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025.

Data awal juga mengindikasikan bahwa impor gas alam cair (liquefied natural gas atau LNG) anjlok secara tahunan hingga 22 persen pada bulan Maret menjadi 3,74 juta ton. Di sektor minyak mentah, China tercatat mengimpor 2,8 persen lebih sedikit pada bulan Maret dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total mencapai 49,98 juta ton.

Meski mengalami penyusutan di bulan Maret, total impor minyak mentah China sejak awal tahun nyatanya masih mengalami kenaikan substansial sebesar 8,9 persen. Hal ini didorong oleh program penimbunan (stockpiling) berkelanjutan oleh Beijing yang telah dimulai sejak tahun 2024.

Menyikapi kebuntuan logistik dan meroketnya harga tersebut, laporan terbaru mengindikasikan bahwa China kini mulai berpaling dari minyak mentah Timur Tengah dan secara agresif mencari lebih banyak volume dari produsen Asia Tengah, khususnya Kazakhstan.

Di sisi lain, volume pengiriman minyak dari Arab Saudi diproyeksikan akan mengalami penurunan yang sangat tajam. Sejumlah pedagang anonim mengatakan kepada Bloomberg awal pekan ini bahwa pengiriman bulan Mei dari kerajaan tersebut ke China bisa jadi hanya mencapai separuh dari perkiraan total impor bulan April yang menyentuh 40 juta barel.

Selain karena kendala fisik pasokan, penjualan minyak mentah Saudi ke China pada bulan Mei dipastikan akan terpukul oleh lonjakan harga yang diumumkan kerajaan pekan lalu.

Merespons penutupan de facto Selat Hormuz yang mengacaukan arus minyak dunia, Arab Saudi telah mematok harga minyak mentah andalannya, Arab Light, untuk pemuatan ke Asia pada bulan Mei ke rekor premium tertinggi di atas acuan Timur Tengah.

Perusahaan raksasa Aramco dilaporkan menaikkan harga Arab Light tersebut hingga mencapai premium sebesar US$19,50 di atas rata-rata acuan Oman/Dubai, yang biasanya menjadi tolok ukur penentuan harga pasokan untuk kawasan Asia. (SF)