Dampak perang reda, rupiah dan mata uang Asia menguat
Kamis, 16 April 2026
JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,07% ke Rp17.133 hingga pukul 10.39 WIB, menyusul penguatan mata uang negara emerging market Asia.
Penguatan ini terjadi seiring kinerja indeks dolar AS (DXY), yang menghadapi tekanan 0,17% terhadap sejumlah mata uang utama dunia.
Menurut data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot sempat melemah ke Rp17.144 per dolar AS pada pembukaan hari ini. Namun rupiah berangsur pulih dan mencatat kenaikan 12 poin.
Sebagai catatan, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terendahnya di Rp17.146 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/4), seperti disampaikan IDNFinancials.com.
Di tengah pelemahan ini, Bank Indonesia mengaku telah melakukan berbagai upaya intervensi, baik di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
Sementara itu won Korea memimpin penguatan mata uang emerging market Asia, dengan kenaikan 0,44% terhadap dolar AS. Baht Thailand menyusul dengan penguatan 0,42%, peso Filipina 0,30% dan ringgit Malaysia 0,20%.
Portfolio Manager di Wilson Asset Management, Matthew Haupt, mengatakan saat ini pasar mulai kembali ke arus dan posisi sebelum perang.
“Meskipun konflik belum sepenuhnya tuntas,” kata Haupt, seperti dikutip Bloomberg. “Dari titik ini, pasar butuh sentimen baru untuk bisa menguat lebih tinggi setelah akumulasi signifikan terjadi,” imbuhnya.
Di pasar saham, indeks acuan negara emerging Asia kompak menguat dipimpin KOSPI yang mencapai 1,87%. Hang Seng menyusul dengan kenaikan 1,28%, NIFTY India naik 0,64%, dan IHSG 0,39%. (KR)