Bersihkan Selat Hormuz, Amerika kerahkan drone dan robot
Jumat, 17 April 2026

WASHINGTON - Amerika Serikat mulai melakukan upaya untuk membersihkan ranjau laut di Selat Hormuz dengan menggunakan teknologi modern seperti drone, sistem robotik, dan helikopter untuk mengurangi risiko terhadap personel.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa operasi ini tetap lambat, kompleks, dan berbahaya karena ancaman serangan lanjutan, mengutip dari Reuters.
Operasi ini merupakan bagian dari upaya AS untuk mengamankan jalur laut strategis tersebut setelah gangguan terhadap pelayaran yang terkait dengan ketegangan dengan Iran.
Laporan menyebutkan Iran kemungkinan telah menempatkan sekitar selusin ranjau di wilayah itu, meskipun lokasinya tidak diketahui secara pasti.
Pejabat AS mengatakan operasi pembersihan sudah dimulai, termasuk pengerahan kapal perang dan sistem tak berawak, dengan tambahan aset yang akan segera menyusul.
Sementara Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kapal pemasang ranjau Iran telah dihancurkan, para analis menilai masih ada kemungkinan ranjau tambahan dipasang sehingga ancaman tetap ada.
Perang ranjau dianggap sangat efektif karena biayanya murah untuk dipasang tetapi mahal dan memakan waktu untuk dibersihkan, serta ancamannya saja sudah bisa menghambat kapal dagang.
Secara tradisional, Angkatan Laut AS menggunakan kapal penyapu ranjau berawak yang masuk ke area berbahaya dengan sonar dan peralatan penyapu mekanis, kadang dibantu penyelam.
Namun, banyak armada lama ini sudah dikurangi atau dipensiunkan.
Saat ini, Angkatan Laut lebih mengandalkan sistem modern seperti kapal littoral combat, kendaraan tak berawak di permukaan dan bawah laut, serta robot kendali jarak jauh yang memungkinkan operator tetap aman di luar zona berbahaya.
AS juga memiliki sejumlah terbatas kapal dan sistem ini yang ditempatkan di kawasan tersebut, bersama helikopter dan drone pendeteksi ranjau.
Jenis ranjau yang mungkin digunakan termasuk ranjau dasar laut yang meledak saat kapal melintas di atasnya, ranjau terapung yang ditambatkan, ranjau yang bergerak bebas, dan ranjau yang menempel langsung pada lambung kapal.
Proses pembersihan biasanya dimulai dengan pemindaian dasar laut menggunakan drone ber-sensor sonar.
Jika ditemukan objek mencurigakan, data dianalisis dari jarak jauh untuk memastikan apakah itu ranjau, lalu ditentukan cara penetralannya.
Untuk menghancurkan ranjau, militer AS dapat menggunakan sistem seperti Archerfish, perangkat kecil yang dikendalikan dari jarak jauh dan membawa bahan peledak untuk menetralisir target, sambil mengirimkan video kembali ke operator. (DK)