Rupiah merosot ke rekor terendah lagi, Rp17.194 per dolar AS

Jumat, 17 April 2026

image

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali merosot ke Rp17.194 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (17/4) siang hari ini, menjadi rekor terendah baru sepanjang masa.

Padahal nilai tukar rupiah sempat menguat terbatas ke Rp17.139 per dolar AS di pasar spot menurut data Bloomberg, pada perdagangan Kamis (16/4) kemarin.

Namun dengan pelemahan pada Jumat siang, nilai tukar rupiah dalam sebulan terakhir telah mencatat penurunan 1,11%. Padahal dalam sebulan terakhir, indeks dolar AS (DXY) menghadapi koreksi 1,37% terhadap sejumlah mata uang utama dunia.

Sementara sejak awal pekan ini, nilai tukar rupiah telah turun 0,53% terhadap dolar AS atau dari level Rp17.104.

Sejumlah analis menyebut pasar keuangan dalam negeri mendapat dukungan sentimen positif, menyusul gencatan senjata sementara antara AS dan Iran di Timur Tengah. Sentimen ini turut mendorong Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) naik lebih dari 2% sejak awal pekan.

Namun dari sisi eksternal, sejumlah institusi global memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih rendah dari target pemerintah, yaitu di kisaran 5,4-5,5% untuk 2026.

Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2% untuk 2026. Sedangkan proyeksi World Bank lebih rendah lagi yaitu 4,7% pada 2026, meski proyeksi ini disebut sebagai “kesalahan besar” oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Purbaya telah menemui sejumlah investor dan institusi global di New York dan Washington DC beberapa hari lalu, untuk menyampaikan arah kebijakan fiskal Indonesia dalam mencapai target pertumbuhan, di atas estimasi dunia.

Ia bersama Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga menemui sejumlah pelaku bisnis, yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council dan Kamar Dagang AS.

Direktur Departemen Komunikasi BI, Anton Pitono, menyampaikan pertemuan itu dalam rangka memperkuat sinergi kebijakan internasional dan komunikasi dengan investor global.

“Guna menjaga stabilitas eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya dalam keterangan yang disampaikan Kamis (16/4).

Dari kawasan emerging Asia, sejumlah mata uang terpantau melemah terhadap dolar AS. Baht Thailand turun 0,47% dan won Korea turun 0,21%, sementara rupee India jadi satu-satunya mata uang yang menguat saat DXY menguat tipis. (KR)