Trump klaim Amerika dapat 'debu nuklir' Iran tanpa bayar sepeser pun
Sabtu, 18 April 2026

JAKARTA – Presiden Amerika Donald Trump mengklaim bahwa Amerika akan mendapatkan semua "debu nuklir" yang diciptakan oleh pesawat pembom B-2 dalam Operation Midnight Hammer pada 25 Juni 2025 lalu.
"Tidak ada uang yang berpindah tangan dalam bentuk apa pun," tulis Trump dalam postingannya di Truth Social, Jumat (17/4/2026).
Menurut Trump, kesepakatan ini sama sekali tidak terkait dengan Lebanon, tetapi Amerika akan secara terpisah bekerja sama dengan Lebanon dan menangani situasi Hezbollah dengan cara yang tepat.
Dia menegaskan Israel tidak akan lagi mengebom Lebanon. "Mereka DILARANG melakukannya oleh AS. Sudah cukup!!! Terima kasih! Presiden DJT," lanjutnya.
Sejauh ini, klaim Trump tersebut belum mendapat respons dari pihak Iran maupun media resmi IRNA.
Seperti dikutip Reuters, postingan Donald Trump muncul setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan di X, pada Jumat (17/4), bahwa sejalan dengan gencatan senjata di Lebanon, jalur pelayaran bagi seluruh kapal komersial melalui Selat Hormuz dinyatakan sepenuhnya terbuka selama sisa masa gencatan senjata.
"Jalur terbuka itu melalui rute terkoordinasi yang sebelumnya telah diumumkan oleh Ports and Maritime Organisation Republik Islam Iran," tulis Abbas Araqchi.
***Apa Maksud "Debu Nuklir"?
Pada Juni 2025, Amerika Serikat melancarkan Operation Midnight Hammer — serangan menggunakan pembom B-2 untuk menargetkan fasilitas nuklir Iran di Fordo dan lokasi lainnya, yang mengakibatkan uranium yang telah diperkaya terkubur jauh di bawah tanah. Istilah "nuclear dust" merujuk pada material uranium tersebut.
Pada 16 April 2026, Trump menyatakan Iran telah menyetujui tiga hal:
Namun klaim ini masih bersifat sepihak: hanya berasal dari pernyataan Trump, tanpa konfirmasi dari Teheran, tanpa dokumen tertulis, dan tanpa verifikasi dari IAEA. (YS/MT)
Terkait:
1. Foto satelit dampak serangan bom AS di fasilitas nuklir Iran
2. Laporan intelijen AS soal dampak bom di Iran bocor, Trump murka