Marine Traffic: Konvoi kapal tanker terlihat melintasi Selat Hormuz
Sabtu, 18 April 2026

JAKARTA — Data pelacakan kapal Marine Traffic memperlihatkan sebuah konvoi yang terdiri dari delapan kapal tanker terlihat melintasi Selat Hormuz pada hari Sabtu (18/4), di tengah harapan beberapa pemilik kapal bahwa Teheran akan mengizinkan mereka keluar dari Teluk selama jendela gencatan senjata singkat dalam perang Iran.
Kelompok tersebut, seperti dikutip dari Reuters, yang terdiri dari satu kapal pengangkut minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC), beberapa tanker produk minyak dan kimia, serta kapal pengangkut gas petroleum cair (LPG) sedang melintas di perairan Iran di selatan Pulau Larak. Lebih banyak tanker terlihat mengikuti dari wilayah Teluk.
Ratusan kapal telah terjebak di Teluk sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada akhir Februari, dan Teheran membalas dengan menutup selat tersebut, yang memaksa pemangkasan besar produksi minyak dan gas di seluruh produsen minyak kawasan Teluk.
Iran kembali membuka selat tersebut, yang sebelum perang menampung sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, setelah gencatan senjata terpisah yang dimediasi Amerika Serikat antara Israel dan Lebanon pada hari Kamis.
Beberapa pemilik kapal mengatakan mereka mungkin akan mencoba memanfaatkan jendela kesempatan ini untuk keluar dari Selat Hormuz selama gencatan senjata masih berlangsung. Mereka meminta untuk tidak disebutkan namanya karena sensitivitas isu ini.
Sejumlah kapal juga terpantau mendekati selat lalu berbalik arah sejak kemarin sore, menunjukkan bahwa jalur tersebut masih terbatas.
Dalam pernyataan pada Sabtu pagi, Juru Bicara Garda Revolusi Iran mengatakan: “Setelah kesepakatan sebelumnya yang dicapai dalam negosiasi, Republik Islam Iran, dengan itikad baik, menyetujui pengaturan lintasan terbatas bagi sejumlah kapal tanker minyak dan kapal komersial melalui Selat Hormuz.”
Penutupan Selat Hormuz telah menyebabkan kehilangan pasokan terbesar dalam sejarah, lebih dari 10 juta barel minyak per hari dan pemotongan 20% pasokan gas alam cair global, menurut Badan Energi Internasional.
Produsen utama di Teluk seperti Arab Saudi, UEA, Irak, dan Kuwait menyatakan bahwa mereka membutuhkan arus masuk dan keluar kapal tanker yang stabil serta akses tanpa hambatan melalui selat tersebut agar dapat kembali menjalankan ekspor minyak secara normal. (YS)