Baru saja Selat Hormuz dibuka, Iran akan tutup lagi?

Sabtu, 18 April 2026

image

ISLAMABAD – Sebuah konvoi delapan kapal tanker melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, menjadi pergerakan besar pertama sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai tujuh minggu lalu. Pergerakan ini terjadi di tengah rencana Teheran untuk kembali memperketat kontrol atas jalur perairan strategis tersebut.

Seperti dikutip Reuters, Sabtu (18/4), Iran menyatakan kembali memberlakukan kontrol militer ketat atas Selat Hormuz, jalur yang sebelum perang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak global. Langkah ini memunculkan ketidakpastian baru mengenai kelanjutan arus pelayaran di kawasan tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut ada “kabar yang cukup baik” terkait Iran, tanpa merinci lebih lanjut. Namun, ia juga memperingatkan bahwa pertempuran bisa kembali pecah jika tidak tercapai kesepakatan damai sebelum Rabu, saat gencatan senjata dua pekan berakhir.

Data pelacakan kapal MarineTraffic menunjukkan empat kapal pengangkut gas petroleum cair bersama sejumlah tanker produk minyak dan bahan kimia melintasi perairan Iran di selatan Pulau Larak. Sejumlah kapal tanker lain dilaporkan menyusul dari kawasan Teluk.

Sebelumnya, Iran sempat membuka sementara Selat Hormuz menyusul kesepakatan gencatan senjata 10 hari yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon. Namun pada Sabtu, Komando Angkatan Bersenjata Iran menegaskan bahwa lalu lintas di selat kembali berada di bawah kontrol militer ketat.

Iran menuding langkah tersebut diambil akibat pelanggaran berulang oleh AS serta tindakan yang disebut sebagai “pembajakan” berkedok blokade. Teheran menyatakan sebelumnya telah menyetujui, “dengan itikad baik”, pengaturan jalur terbatas bagi kapal tanker dan kapal komersial, namun tindakan AS memaksa mereka memperketat kembali pengawasan.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Amerika Serikat.

***Belum Ada Kepastian Pembicaraan

Perang yang dimulai pada 28 Februari itu telah menewaskan ribuan orang, meluas hingga Lebanon, serta memicu lonjakan harga minyak akibat penutupan de facto Selat Hormuz.

Meski aktivitas pelayaran mulai kembali terlihat, prospek pembicaraan tingkat tinggi antara AS dan Iran masih belum jelas, termasuk terkait isu utama program nuklir Iran.

“Sepertinya semuanya berjalan sangat baik di Timur Tengah dengan Iran,” kata Trump kepada wartawan di Air Force One. “Kami bernegosiasi akhir pekan ini. Saya berharap hasilnya baik.”

Ia kembali menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, dan hal tersebut menjadi prioritas utama. Namun di sisi lain, Trump juga menyatakan gencatan senjata bisa dihentikan jika tidak ada kesepakatan jangka panjang sebelum Rabu. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran pun disebut akan tetap berlanjut.

Tekanan untuk mengakhiri perang meningkat di dalam negeri AS, seiring Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas tipis di Kongres menjelang pemilu sela November, di tengah tingginya harga bahan bakar, inflasi, dan menurunnya tingkat persetujuan publik terhadap Trump.

Trump menyebut kemungkinan adanya pembicaraan langsung lanjutan akhir pekan ini. Namun, sejumlah diplomat menilai hal itu kecil kemungkinan terjadi karena kendala logistik di Islamabad.

Sejauh ini, belum terlihat tanda-tanda persiapan pembicaraan di ibu kota Pakistan tersebut, lokasi perundingan tingkat tinggi AS-Iran yang pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan.

Mediator utama Pakistan, Kepala Staf Angkatan Darat Field Marshal Asim Munir, telah menyelesaikan tiga hari pembicaraan di Teheran. Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga baru kembali ke Islamabad setelah melakukan kunjungan ke Qatar, Arab Saudi, dan Turki.

Sumber yang mengetahui proses mediasi menyebut pertemuan Iran-AS berpotensi menghasilkan nota kesepahaman awal, yang dapat diikuti perjanjian damai komprehensif dalam 60 hari.

Namun, Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator senior, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan Selat Hormuz tidak akan tetap terbuka jika blokade AS terus berlanjut.

***Perbedaan Soal Nuklir Masih Mengganjal

Perbedaan terkait program nuklir Iran tetap menjadi hambatan utama dalam perundingan damai. Iran bersikeras bahwa programnya ditujukan untuk kepentingan energi sipil.

Trump menyatakan AS akan menghapus cadangan uranium yang diperkaya milik Iran. Namun, pihak Iran menegaskan bahan tersebut tidak akan dipindahkan ke mana pun.

Meski demikian, seorang pejabat senior Iran menyebut Teheran berharap kesepakatan awal dapat dicapai dalam beberapa hari ke depan.

Harapan meredanya ketegangan sempat menekan harga minyak sekitar 10% dan mendorong kenaikan pasar saham global pada Jumat, seiring kemungkinan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Dalam perundingan sebelumnya, AS mengusulkan penghentian program nuklir Iran selama 20 tahun, sementara Iran menawarkan jeda 3–5 tahun. Sumber menyebut mulai muncul tanda-tanda kompromi, termasuk kemungkinan pengurangan sebagian cadangan uranium Iran. (YS)