Rupiah rekor terendah lawan dolar Singapura, global risk aversion?

Senin, 20 April 2026

image

SINGAPURA – Rupiah menyentuh level terendah baru terhadap dolar Singapura pada tanggal 15 April 2026, terbebani oleh kenaikan harga minyak yang terkait dengan konflik Iran dan arus keluar modal dari pasar obligasi dan ekuitas Indonesia.

Pelemahan mata uang ini telah menimbulkan kekhawatiran tentang potensi penarikan kembali (pullback) permintaan Indonesia untuk layanan Singapura, khususnya perawatan kesehatan, serta aliran ekspor yang lebih lemah ke Indonesia.

Seperti dikutip TheStar.com.my (17/04/26), mata uang Indonesia diperdagangkan pada kisaran 13.500 rupiah (US$0,79) per dolar Singapura pada 16 April. Rupiah turun 9,3 persen terhadap dolar Singapura pada tahun 2025, dan telah melemah sebesar empat persen lagi pada tahun 2026, menurut data Bloomberg.

S&P Global Ratings menyatakan pada 15 April 2026 bahwa profil kredit negara (sovereign credit profile) Indonesia termasuk yang paling rentan terhadap konflik berkepanjangan di Timur Tengah.

Indonesia memproduksi minyak tetapi tetap menjadi importir neto, sehingga harga energi yang lebih tinggi akibat dampak konflik Iran telah meningkatkan biaya impor dan subsidi bahan bakar, serta melemahkan neraca perdagangan eksternal dan posisi fiskal negara kepulauan tersebut.

Penghindaran risiko global (global risk aversion) juga telah memicu arus keluar modal dari pasar obligasi dan ekuitas Indonesia, seiring langkah investor memindahkan dana ke aset yang lebih aman, yang pada gilirannya menambah tekanan pada rupiah.

Data resmi menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan penjualan bersih obligasi pemerintah Indonesia sebesar US$202 juta pada bulan Januari. Arus keluar ini juga bertepatan dengan kekacauan pasar saham lokal yang menghapus nilai pasar sekitar US$80 miliar setelah penyedia indeks MSCI menandai kekhawatiran atas transparansi kepemilikan dan perdagangan.

Sales Trader Saxo, Sean Teo, mengatakan rupiah telah berada dalam tren penurunan yang berkepanjangan, dengan ketegangan di Timur Tengah kian menambah tekanan tersebut.

Ia mencatat bahwa gangguan aliran minyak melalui Selat Hormuz telah menaikkan harga energi, mendorong modal mengalir ke dolar AS dan menjauh dari mata uang berisiko seperti rupiah.

"Lembaga pemeringkat Moody's telah merevisi prospek Indonesia menjadi 'negatif', mengutip ketidakpastian politik dan pelemahan tata kelola, sementara MSCI menghentikan penyesuaian positif apa pun pada sekuritas Indonesia, yang memicu aksi jual senilai US$80 miliar dari pasar Indonesia pada bulan Januari," kata Teo.

"Jadi modal mungkin malah mengalir ke pasar lain di kawasan ini, seperti Singapura, Hong Kong, dan Malaysia," tambahnya.

Tekanan pada Pariwisata dan Medis

Para analis memperkirakan adanya pemulihan pada rupiah jika ketegangan dalam konflik Iran mereda.

Namun mereka mencatat bahwa pelemahan rupiah dan kuatnya dolar Singapura, jika berkepanjangan, dapat membebani sektor pariwisata medis Singapura dan perdagangan dengan Indonesia.

Mata uang Singapura diperkirakan akan terapresiasi setelah bank sentralnya pada 14 April memperketat sikap kebijakan moneternya untuk mengekang inflasi, memungkinkan dolar Singapura yang lebih kuat untuk meredam biaya impor.

Ahli Strategi Valuta Asing OCBC Bank, Christopher Wong, mengatakan dampak pelemahan rupiah pada ekonomi Singapura kemungkinan akan "tidak merata".

"Dalam perawatan kesehatan, permintaan untuk spesialis dan perawatan ketajaman yang lebih tinggi (higher-acuity treatment) harus tetap relatif tangguh, karena layanan semacam itu cenderung kurang sensitif terhadap harga," katanya.

"Sebaliknya, prosedur elektif dan pengeluaran diskresioner terkait mungkin lebih rentan, karena pelemahan rupiah membuat perawatan dan perjalanan ke Singapura menjadi lebih mahal bagi pasien Indonesia," imbuh Wong.

Pemulihan Rupiah Diharapkan

Para analis untuk saat ini  masih mengharapkan rupiah untuk pulih secara bertahap.

Ahli Strategi Valuta Asing dan Kredit DBS Group Research, Chang Wei Liang, mengatakan bank mengharapkan pemulihan dengan rupiah sekarang terlihat undervalued, dan dengan Indonesia juga memulai reformasi pasar untuk menenangkan kekhawatiran investor.

Hal senada diungkapkan Ahli Strategi Valuta Asing Senior UOB, Peter Chia, mengatakan Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan langkah-langkah stabilisasi mata uangnya, yang seharusnya membantu mencegah penurunan lebih lanjut pada rupiah.

Bank sentral Indonesia telah mengintervensi pasar valuta asing untuk mendukung rupiah dengan menarik cadangan devisa negara, yang turun US$3,7 miliar menjadi US$148,2 miliar pada bulan Maret. Bank sentral juga telah memperketat kebijakan moneter untuk mengelola volatilitas.

"Dengan asumsi konflik Iran terus mereda (de-escalate), lingkungan risiko global yang membaik, dikombinasikan dengan rupiah yang secara substansial lebih lemah, dapat menghadirkan titik masuk yang menarik bagi investor obligasi asing," kata Chia.

Ia menambahkan bahwa kinerja rupiah akan sangat bergantung pada apakah investor terus menempatkan uang ke dalam obligasi Indonesia. (SF)