Amerika sita kapal Iran, minyak dan gas kompak melonjak
Senin, 20 April 2026

JAKARTA - Harga minyak dan gas melonjak tajam setelah Angkatan Laut AS menyita kapal Iran di Teluk Oman, memicu ketegangan baru di jalur energi global. Insiden terjadi di tengah akhir pekan yang diwarnai aksi saling serang, termasuk tembakan dari Teheran ke sejumlah kapal serta pengetatan kembali kontrol di Selat Hormuz.
Dikutip bloomberg, minyak brent sempat naik hingga 7,9%, membalikkan penurunan sebelumnya setelah sempat ada kabar pembukaan jalur pelayaran. Sementara itu, harga gas Eropa melonjak hingga 11%.
Iran kembali menutup Selat Hormuz pada Sabtu, dengan alasan blokade AS terhadap kapal terkait Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata yang akan berakhir Selasa.
Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS menembak dan menyita kapal tersebut setelah tidak mengindahkan peringatan saat keluar dari Hormuz. Insiden ini menjadi konfrontasi besar pertama sejak blokade diberlakukan sepekan terakhir. Peristiwa itu juga terjadi di tengah tarik ulur peluang perundingan damai di Islamabad, di mana Trump melihat peluang kesepakatan, sementara pihak Iran menilai belum ada prospek yang jelas.
“Pasar masih membawa premi risiko menjelang tenggat waktu, tetapi belum sepenuhnya berkomitmen pada hal itu,” kata Haris Khurshid, kepala investasi di Karobaar Capital LP. “Jika keadaan terus seperti ini, Anda mungkin akan melihat dorongan bertahap ke atas hingga sekitar US$105 - US$115, tetapi dengan banyak fluktuasi berdasarkan berita utama.”
Ketegangan di Selat Hormuz jalur yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan LNG global sebelum perang AS-Israel dengan Iran meningkatkan risiko krisis energi global. Kondisi ini juga menekan proyeksi penyelesaian konflik yang sebelumnya disampaikan Trump.
Data pelacakan menunjukkan tidak ada kapal yang melintas di Selat Hormuz pada Minggu. Sedikitnya 13 kapal tanker berbalik arah ke Teluk Persia dan membatalkan pelayaran keluar.
Gangguan ini memicu guncangan pasokan yang signifikan, memperkuat tekanan inflasi dan berpotensi menahan pertumbuhan ekonomi global. Dampaknya diperkirakan mulai terlihat pekan ini melalui sejumlah survei bisnis yang dapat mengindikasikan risiko stagflasi.(DH)