Perang Iran dan Indonesia batasi produksi bisa topang harga nikel
Senin, 20 April 2026

JAKARTA – Perang di Iran dan pembatasan produksi di Indonesia diperkirakan akan menopang harga nikel pada tahun 2026, meskipun kelebihan pasokan global yang terus-menerus akan terus membatasi kenaikan, menurut laporan baru oleh firma riset industri BMI.
Seperti dikutip Mining.com (15/04/2026), dengan mengutip "lingkungan harga yang secara struktural lebih kuat," BMI pada hari Selasa menaikkan perkiraan harga nikel tahun 2026 menjadi US$16.600 per ton. Sebelumnya, lembaga ini memperkirakan harga rata-rata sebesar US$15.800 untuk tahun ini.
"Untuk sisa tahun 2026, meskipun perkembangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi sentimen pasar, prospek harga nikel kemungkinan akan tetap didominasi oleh dinamika sisi pasokan di Indonesia," tulis BMI.
Kontrak berjangka nikel tiga bulan di London Metal Exchange (LME) naik 0,2% menjadi US$18.250 per ton pada perdagangan Rabu sore, menurut data. Hal itu terjadi setelah lonjakan 2,9% pada hari Selasa.
Pasokan Indonesia
Indonesia memainkan peran sentral dalam membentuk harga nikel.
Indoensia terus memperluas kapasitas produksi, dengan produksi nikel olahan diperkirakan tumbuh 9,8% pada 2026 menyusul pertumbuhan 9% pada 2025, yang memperlebar surplus global.
BMI memperkirakan surplus pasar akan melebar secara "moderat" menjadi sekitar 324.000 ton pada 2026, membatasi ruang untuk reli harga yang berkelanjutan.
Meski demikian, penyesuaian kebijakan di Indonesia memberikan beberapa dukungan. Keputusan pemerintah untuk membatasi kuota penambangan bijih nikel untuk tahun 2026 pada 260 juta hingga 270 juta wet metric tonnes telah memperbaiki sentimen, kata BMI. Angka tersebut turun dari kuota sebesar 379 juta ton pada tahun lalu.
Risiko geopolitik juga memainkan peran yang semakin besar. Mengingat lebih dari dua pertiga impor sulfur Indonesia berasal dari Timur Tengah, gangguan pasokan dapat memperketat ketersediaan sulfur, meningkatkan biaya input untuk operasi high-pressure acid leach (HPAL) dan menghambat pertumbuhan pasokan nikel.
Kekurangan sulfur yang disebabkan oleh gangguan pasokan yang dipicu oleh perang Iran telah memaksa sejumlah prosesor nikel Indonesia untuk memangkas produksi setidaknya 10% sejak bulan lalu, tulis Reuters minggu ini, mengutip tiga sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Biaya Energi
Produsen nikel juga harus berhadapan dengan biaya energi yang lebih tinggi terkait dengan konflik tersebut, kata BMI. Ini sangat bermasalah untuk operasi berbiaya tinggi di luar Indonesia, menambah tekanan ke atas lebih lanjut pada harga.
Pada saat yang sama, pertumbuhan permintaan diperkirakan akan melambat, menurut BMI. Permintaan nikel global diprediksi akan naik sekitar 3% pada 2026, turun dari 5,8% pada 2025, yang mencerminkan ekspansi yang lebih lemah di berbagai sektor utama, kata firma tersebut.
Fundamental permintaan tetap berlabuh pada produksi baja tahan karat (stainless steel) dan transisi energi bersih, terutama kendaraan listrik dan sistem energi terbarukan. China daratan diperkirakan akan tetap menjadi sumber pertumbuhan permintaan terbesar, meskipun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Teknologi Baterai
Pergeseran struktural dalam teknologi baterai juga muncul sebagai hambatan utama. Peningkatan adopsi baterai lithium iron phosphate (LFP) yang disukai karena biayanya yang lebih rendah dan keamanannya mengikis permintaan untuk kimia intensif nikel, kata firma tersebut.
"Pergeseran bauran ini kemungkinan akan membuat sentimen tetap tertahan dan meredam pertumbuhan permintaan nikel meskipun ada dorongan makro yang lebih luas," ujar BMI.
Prospek jangka panjang untuk produsen lebih menggembirakan, dengan BMI memperkirakan penyempitan surplus secara bertahap seiring dengan meningkatnya permintaan karena pertumbuhan di sektor baja tahan karat dan percepatan transisi energi bersih.
Harga nikel dapat mencapai rata-rata US$16.700 tahun depan, naik menjadi US$19.000 pada tahun 2030, menurut BMI. Pada tahun 2032, ketika pasar berubah menjadi defisit, harga bisa mencapai US$22.000, BMI menambahkan.
"Dalam jangka menengah hingga panjang, Indonesia tetap menjadi sumber ketidakpastian terbesar untuk pasar nikel olahan," tegas BMI. "Pada akhirnya, kecepatan peningkatan kapasitas nikel olahan akan menentukan seberapa baik pasokan pasar global selama dekade mendatang." (SF)