Amerika kejar deal Iran, Eropa khawatir dampak jangka panjang
Senin, 20 April 2026

JAKARTA - Sejumlah sekutu Eropa menilai dorongan Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan cepat dengan Iran berisiko menimbulkan masalah baru dalam perundingan nuklir yang kompleks.
Dikutip reuters, para diplomat yang terlibat dalam isu tersebut khawatir pendekatan Washington yang ingin segera menghasilkan kesepakatan awal justru akan menyisakan persoalan teknis yang sulit diselesaikan dalam tahap lanjutan.
"Kekhawatiran bukanlah bahwa tidak akan ada kesepakatan," kata seorang diplomat senior Eropa. "Yang menjadi kekhawatiran adalah akan adanya kesepakatan awal yang buruk yang akan menciptakan masalah berantai yang tak berujung."
Pemerintahan Donald Trump menolak kritik tersebut. Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan, "Presiden Trump memiliki rekam jejak yang terbukti dalam mencapai kesepakatan yang baik atas nama Amerika Serikat dan rakyat Amerika, dan dia hanya akan menerima kesepakatan yang mengutamakan Amerika."
Diplomat dari Prancis, Inggris, dan Jerman menyebut mereka tidak banyak dilibatkan dalam proses terbaru, meski sebelumnya berperan penting dalam kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action. Kesepakatan itu dibatalkan Trump pada 2018.
Perundingan terbaru kembali dibuka di Islamabad setelah sekitar 40 hari konflik militer. Fokus utama tetap pada pertukaran pembatasan program nuklir Iran dengan pelonggaran sanksi. Namun, perbedaan pendekatan dan rendahnya tingkat kepercayaan dinilai meningkatkan risiko kesepakatan yang rapuh.
"Butuh waktu 12 tahun dan kerja teknis yang luar biasa," kata Federica Mogherini. "Apakah ada yang benar-benar berpikir ini bisa dilakukan dalam 21 jam?"
Diplomat menilai kesepakatan awal mungkin hanya mencakup kerangka dasar dengan detail terbatas, terutama terkait isu nuklir yang paling sensitif. Salah satu fokus utama adalah sekitar 440 kilogram uranium yang diperkaya hingga 60%, yang berpotensi digunakan untuk beberapa senjata nuklir jika diproses lebih lanjut.
"Orang Amerika berpikir Anda menyetujui tiga atau empat poin dalam dokumen lima halaman dan itu saja, tetapi dalam masalah nuklir, setiap klausul membuka pintu bagi selusin perselisihan lainnya," kata seorang diplomat Eropa lainnya.
Sejumlah opsi teknis tengah dibahas, termasuk pengurangan kadar uranium di dalam negeri di bawah pengawasan International Atomic Energy Agency atau pemindahan sebagian material ke luar negeri. Namun, setiap opsi memerlukan negosiasi lanjutan yang kompleks. "Apa pun yang terjadi sekarang hanyalah titik awal," kata seorang diplomat Barat. "Itulah mengapa JCPOA 2015 mencapai 160 halaman."
Perbedaan mendasar juga muncul terkait hak Iran untuk memperkaya uranium. Washington mendorong penghentian total, sementara Teheran menegaskan haknya untuk program sipil. "Negosiasi dengan Iran itu teliti dan halus: setiap kata penting," kata Gérard Araud. "Itu bukan sesuatu yang bisa terburu-buru."
Di sisi lain, pembahasan ekonomi mencakup pencabutan sanksi dan pembukaan akses terhadap dana Iran yang dibekukan. Iran menginginkan akses terbatas dalam jangka pendek, sementara pelonggaran lebih luas memerlukan dukungan Eropa.
"Pembicaraan ini bukan kesepakatan properti yang diselesaikan dengan jabat tangan," kata seorang diplomat senior regional. "Pembicaraan ini melibatkan pengaturan langkah-langkah, pencabutan sanksi, dan langkah-langkah nuklir timbal balik."
Para diplomat menilai tekanan geopolitik terbaru justru memperkeras posisi Iran, termasuk tuntutan jaminan non-agresi. Sekutu AS di kawasan juga memiliki kepentingan berbeda, termasuk isu rudal balistik dan aktivitas proksi Iran. Meski tidak berada di garis depan negosiasi, pejabat Eropa menilai pengalaman panjang mereka tetap relevan dalam proses ini. “Tim AS ini sama sekali tidak memiliki keahlian yang cukup,” kata seorang pejabat Eropa. “Kami telah mengerjakan berkas ini selama dua dekade.” (DH)