Yuan China melemah ke 6,8648 terhadap dolar AS

Senin, 20 April 2026

image

TIONGKOK – Nilai tengah (central parity rate) mata uang China, renminbi atau yuan, melemah 26 pip menjadi 6,8648 terhadap dolar AS pada hari Senin (20/4), menurut China Foreign Exchange Trade System.

Di pasar valuta asing spot China, yuan diizinkan bergerak naik atau turun hingga 2% dari nilai tengah tersebut setiap hari perdagangan.

Mengutip Xinhua, nilai tengah yuan terhadap dolar AS ditetapkan berdasarkan rata-rata tertimbang harga yang ditawarkan oleh para pembuat pasar sebelum pasar antarbank dibuka setiap hari kerja.

Sebelumnya, yuan melemah 6 pip menjadi 6,8622 terhadap dolar AS pada hari Jumat (17/4).

Kemudian pada hari Kamis (16/4), mata uang China, renminbi atau yuan, melemah 34 pip menjadi 6,8616 terhadap dolar AS.

Disisi lain, Circle Internet Group menilai ada peluang besar bagi pengembangan stablecoin berbasis yuan seiring meningkatnya peran uang digital dalam perdagangan dan sistem keuangan global. CEO Circle, Jeremy Allaire, mengatakan China berambisi memperluas penggunaan yuan di tingkat internasional.

Stablecoin dinilai bisa menjadi cara efektif untuk “mengekspor” mata uang karena mempermudah transaksi lintas negara, mengutip dari Reuters. Stablecoin sendiri merupakan jenis kripto yang nilainya stabil karena biasanya dipatok ke mata uang fiat seperti dolar AS. Allaire menyebut kompetisi mata uang kini juga menjadi kompetisi teknologi, sehingga negara perlu menghadirkan fitur terbaik bagi mata uangnya. Ia memperkirakan China berpotensi meluncurkan stablecoin berbasis yuan dalam tiga hingga lima tahun ke depan.

Jika terealisasi, langkah ini akan menjadi perubahan besar mengingat China sebelumnya melarang perdagangan dan penambangan kripto pada 2021 demi menjaga stabilitas sistem keuangan. Meski demikian, penggunaan stablecoin terus meningkat secara global karena menawarkan transaksi yang lebih cepat dan murah. Produk Circle, USDC, yang didukung dolar AS, mencatat pertumbuhan sirkulasi signifikan hingga mencapai lebih dari US$75 miliar pada akhir 2025. Allaire juga mengungkapkan lonjakan transaksi USDC terjadi saat ketegangan geopolitik meningkat, termasuk konflik AS-Iran, karena permintaan terhadap dolar digital yang mudah dipindahkan ikut naik. Selain itu, Hong Kong dinilai sebagai pusat penting untuk pembayaran lintas batas, dengan peluang integrasi stablecoin ke dalam platform global. Circle pun turut berada di tengah perdebatan regulasi kripto di AS, terutama terkait aturan baru yang dapat memengaruhi distribusi produk stablecoin. (DK)