RBC: Dua bank hadapi risiko eksposur kripto paling besar
Senin, 20 April 2026

PARIS - Bank-bank Eropa dengan bisnis manajemen kas korporasi besar, seperti HSBC dan Deutsche Bank, dinilai paling berisiko terdampak jika perusahaan mulai beralih menggunakan kripto untuk mengelola keuangan mereka.Hal ini diungkap analis RBC Capital Markets dalam laporan terbaru.Menurut analis, bank yang lambat memahami aset digital berpotensi mengalami tekanan margin dan kehilangan nasabah, mengutip dari Reuters.Namun di sisi lain, perkembangan aset digital juga membuka peluang sumber pendapatan baru bagi industri perbankan.Survei RBC terhadap 18 bank Eropa menunjukkan bahwa 72% responden melihat pembayaran lintas negara sebagai penggunaan utama kripto dalam waktu dekat.Pembayaran korporasi disebut sebagai segmen yang paling siap diadopsi pasar.Meski begitu, dampak finansialnya bisa signifikan.Bank dengan eksposur tinggi terhadap pembayaran korporasi berpotensi kehilangan hingga 7% pendapatan, terutama akibat kenaikan biaya pendanaan dan penurunan pendapatan berbasis biaya.HSBC dan Deutsche Bank disebut sebagai yang paling terekspos, dengan kontribusi bisnis pembayaran korporasi mencapai 10% atau lebih dari total pendapatan grup.Sementara BNP Paribas juga memiliki bisnis serupa, namun porsinya lebih kecil terhadap keseluruhan pendapatan.Di sisi lain, mayoritas bank masih berhati-hati. Sebanyak 83% responden tidak melihat aset digital sebagai layanan inti atau pengganti produk yang sudah ada.Bahkan, 67% bank menyebut permintaan terhadap stablecoin masih terbatas, dan seluruh responden menilai dampaknya terhadap likuiditas serta manajemen kas saat ini masih minim.Meski demikian, sejumlah bank mulai mengembangkan bisnis kripto.Lembaga seperti Deutsche Bank, Barclays, dan BNP Paribas dilaporkan ikut serta dalam inisiatif stablecoin yang dipimpin oleh konsorsium perbankan. (DK)