Rebound saham bank menanti rupiah pulih dan rebalancing MSCI

Senin, 20 April 2026

image

JAKARTA – Sejumlah saham bank dengan kapitalisasi pasar jumbo berpotensi kembali pulih, setelah harganya kompak melemah sejak awal 2026.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah Budiman, mengatakan saham bank sejauh ini tetap menghadapi tekanan jual. Hal ini dinilai membuat harga saham bank terus tertekan dan belum menunjukkan indikasi pemulihan.

“Kalau ditanya kapan kira-kira ini akan segera membaik, pasti setelah dari sisi MSCI ini clear, saham-saham perbankan akan ‘lebih ringan’ ke depannya,” jelas Fath, dalam pemaparan yang disampaikan Senin (20/4) hari ini.

Sebagai catatan, pengelola indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) telah menjadwalkan rebalancing berikutnya pada Mei 2026. Estimasi hasil rebalancing akan berlaku efektif pada 1 Juni 2026.

Menjelang periode rebalancing, kata Fath, investor akan memperhitungkan lagi dampak outflow dari saham perbankan dan perubahan bobot masing-masing saham di indeks MSCI.

Di sisi lain, investor juga fokus pada mata uang rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Namun di tengah pelemahan ini, ia menilai investor juga perlu mempertimbangkan sisi fundamental Indonesia, dalam menghadapi berbagai tantangan termasuk defisit fiskal.

Sedangkan dari sisi investor asing, Fath menilai pelemahan nilai tukar rupiah saat ini berpotensi jadi keuntungan bagi investor asing. “Mereka bisa mendapatkan keuntungan itu double, dari kenaikan harga saham plus dari penguatan kursnya,” imbuh Fath.

Dalam skenario optimis, Fath menilai pembalikan tren pada saham perbankan sangat mungkin terjadi. Terutama jika situasi di pasar global membaik dan fundamental Indonesia juga berangsur tumbuh.

“Ini sangat bagus di mata asing, karena mereka dapat keuntungan dari dua hal, dari sisi capital gain dan dividen, dan juga penguatan dari sisi kurs,” ungkap Fath.

Harga turun sejak awal tahun, BBCA paling dalam

Berdasarkan data IDNFinancials.com, tiga saham bank dengan kapitalisasi pasar terbesar kompak melemah sejak awal tahun.

Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 19,20% sejak awal tahun, hingga akhir pekan lalu di Rp6.425 per lembar.

Bank swasta milik Grup Djarum dan Salim ini, memberikan yield dividen 5,15% untuk tahun buku 2025. Namun aksi jual investor asing di saham BBCA sejak awal tahun telah mencapai Rp21,90 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua, mencatat penurunan harga 5,74% sejak awal tahun.

Meski membagikan dividen dengan yield 10,03% untuk tahun buku 2025, net sell asing di saham bank milik pemerintah ini mencapai Rp5,02 triliun sejak awal tahun.

Terakhir, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar ketiga, mencatat penurunan harga saham 9,22% sejak awal tahun.

Sementara net sell asing pada saham bank pelat merah ini tercatat sebesar Rp4,72 triliun sejak awal tahun, meski membagikan dividen dengan yield 2,16%. (KR)